Media Kampung – Di era digital, kepercayaan publik terhadap informasi bergeser secara fundamental. Jika dulu media massa menjadi rujukan utama, kini banyak netizen lebih percaya pada konten yang dibuat oleh influencer. Fenomena ini memunculkan pertanyaan: mengapa kredibilitas berbasis keahlian kalah oleh preferensi personal?

Teori Agenda Setting yang dikemukakan Maxwell McCombs dan Donald L. Shaw pada tahun 1972 menyatakan bahwa media tidak memberi tahu kita apa yang harus dipikirkan, melainkan apa yang penting untuk dipikirkan. Namun, dengan hadirnya internet dan media sosial, khalayak tidak lagi bergantung sepenuhnya pada media arus utama. Teori Uses and Gratifications dari Sandra Ball-Rokeach dan Melvin DeFleur menjadi relevan: khalayak aktif memilih media yang memenuhi kebutuhan mereka.

Baca juga:

Algoritma platform seperti TikTok dan Instagram memperkuat kecenderungan ini. Konten yang sesuai dengan minat pengguna terus-menerus disajikan, menciptakan lingkungan informasi yang personal. Misalnya, seseorang yang mencari solusi jerawat akan dihadapkan pada ratusan video testimoni influencer, lengkap dengan bukti sebelum dan sesudah. Meskipun influencer tersebut bukan ahli dermatologi, kepercayaan terbangun melalui pengalaman personal dan interaksi dua arah.

Fenomena ini dikenal sebagai pergeseran dari kredibilitas berbasis keahlian (expertise-based credibility) menuju kredibilitas berbasis pengalaman (experiential credibility). Menurut Teori Media Dependency dari Ball-Rokeach dan DeFleur, individu bergantung pada media untuk mencapai tujuan tertentu. Ketika seorang influencer memberikan solusi yang sesuai harapan, kepercayaan pun terbentuk – meskipun informasi tersebut tidak melalui validasi ilmiah.

Baca juga:

Dampaknya terasa pula di industri Public Relations (PR). Banyak perusahaan kini lebih memilih bekerja sama dengan influencer daripada jurnalis untuk menjangkau audiens yang lebih tepat sasaran. Namun, PR dituntut untuk tidak hanya melihat jumlah pengikut, melainkan juga kepakaran, niche audiens, dan kemampuan influencer membangun relasi yang kredibel.

Media massa pun harus beradaptasi. Tidak cukup hanya menyajikan hard news di platform digital. Diperlukan pendekatan kreatif ala influencer agar berita tetap relevan dan dipercaya. Sebab, publik tetap membutuhkan informasi yang akurat dan kredibel – dan media massa memiliki tanggung jawab moral untuk menyediakannya.

Baca juga:

Pada akhirnya, pertarungan antara kredibilitas dan preferensi tidak akan selesai begitu saja. Netizen akan terus memilih konten yang sesuai dengan kebutuhan mereka, namun kesadaran akan pentingnya verifikasi informasi juga perlu terus ditumbuhkan.