Media Kampung, Kebiasaan mengatakan “iya” padahal hati ingin menolak, menerima pekerjaan tambahan saat kelelahan, atau terus mengalah dalam hubungan hanya karena takut dianggap egois—situasi ini akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Banyak yang menganggap sikap “tidak enakan” sebagai bentuk kesopanan dan kepedulian. Namun, jika tanpa batas yang sehat, kebiasaan ini dapat menguras kesehatan mental, hubungan sosial, dan kualitas hidup.
Asal-usul Budaya Tidak Enakan
Budaya tidak enakan lahir dari nilai luhur masyarakat Indonesia, seperti menghormati orang lain, menjaga keharmonisan, dan menghindari konflik. Nilai-nilai ini positif karena memperkuat hubungan sosial dalam semangat gotong royong. Namun, dalam praktiknya, banyak orang lebih takut mengecewakan orang lain daripada dirinya sendiri. Mereka memilih diam saat diperlakukan tidak adil, sulit menolak permintaan memberatkan, dan memendam perasaan demi citra pribadi yang baik.
Fenomena di Berbagai Lingkungan
Di lingkungan kerja, karyawan kerap menerima pekerjaan di luar tanggung jawab karena khawatir dinilai tidak kooperatif. Di pertemanan, seseorang rela mengorbankan waktu dan finansial agar diterima kelompok. Di keluarga, anggota memendam pendapat demi menghindari pertengkaran, padahal persoalan justru membesar karena tidak dibicarakan terbuka.
Dampak pada Kesehatan Mental
Kebiasaan mengesampingkan kebutuhan diri sendiri dapat menimbulkan tekanan psikologis serius. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan kesehatan mental adalah bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan. Ketika seseorang terus memendam perasaan, sulit menetapkan batasan (boundaries), dan merasa bertanggung jawab atas perasaan semua orang, tekanan emosional menumpuk. Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu kecemasan, stres berkepanjangan, hingga kelelahan emosional (burnout).
Data nasional mendukung hal ini. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari Kementerian Kesehatan menunjukkan masalah kesehatan mental masih menjadi perhatian, terutama pada usia produktif. Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Indikator Kesejahteraan Rakyat 2024 juga menekankan kesejahteraan psikologis sebagai bagian dari kualitas hidup.
Penyebab Kuatnya Budaya Tidak Enakan
Salah satu penyebab adalah karakter masyarakat Indonesia yang kolektif. Menjaga hubungan baik sering dianggap lebih penting daripada menyampaikan pendapat terus terang. Banyak orang dibesarkan dengan keyakinan bahwa menolak permintaan adalah tidak sopan. Sejak kecil, anak lebih sering diajarkan untuk menurut daripada menyampaikan pendapat secara asertif. Nilai ini membentuk pribadi santun, tetapi tanpa keseimbangan, seseorang kehilangan keberanian memperjuangkan hak dan kebutuhannya.
Media sosial juga memperkuat tekanan. Kehidupan sempurna di dunia digital membuat banyak orang merasa harus selalu menyenangkan agar diterima. Takut dicap sombong saat menolak ajakan, takut dianggap tidak peduli jika tidak segera membantu, atau takut kehilangan relasi saat menetapkan batasan. Akibatnya, mereka terus mengatakan “iya” meski kelelahan.
Hubungan yang Tidak Sehat
Ironisnya, sikap terlalu mengalah tidak selalu menghasilkan hubungan sehat. Hubungan yang dibangun tanpa kejujuran rentan menimbulkan kesalahpahaman. Orang lain terbiasa meminta bantuan karena menganggap kita selalu mampu, sementara kita sendiri sulit mengungkapkan keberatan. Ketika rasa lelah memuncak, konflik yang terjadi jauh lebih besar dibandingkan jika sejak awal berani menolak secara baik-baik.
Cara Mengubah Kebiasaan Tidak Enakan
Mengubah budaya tidak enakan bukan berarti menghilangkan sopan santun. Yang perlu dibangun adalah kemampuan bersikap asertif: menyampaikan pendapat, kebutuhan, dan penolakan dengan tetap menghormati orang lain. Bersikap asertif berbeda dengan kasar. Menolak permintaan yang tidak mampu dipenuhi bukan egoisme, melainkan tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Pemerintah memiliki peran penting. Kementerian Kesehatan terus memperluas layanan kesehatan jiwa di fasilitas primer sebagai bagian dari transformasi layanan. Upaya ini perlu diiringi edukasi publik tentang komunikasi sehat, pengelolaan emosi, dan keberanian menetapkan batasan. Sekolah dan perguruan tinggi dapat memasukkan pendidikan kesehatan mental, komunikasi asertif, dan kecakapan sosial dalam pembentukan karakter.
Di lingkungan keluarga, perubahan bisa dimulai dari hal sederhana. Orang tua sebaiknya memberi ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat tanpa rasa takut. Anak perlu diajarkan bahwa mengatakan “tidak” terhadap hal yang merugikan bukan berarti tidak sopan, melainkan belajar menghargai diri sendiri dan orang lain melalui komunikasi jujur. Ketika keluarga menjadi tempat aman untuk mengungkapkan perasaan, anak tumbuh dengan kemampuan membangun hubungan yang sehat.
Menjadi pribadi yang baik tidak harus selalu mengorbankan diri sendiri. Kebaikan yang sehat adalah ketika mampu membantu orang lain tanpa kehilangan ketenangan batin dan tanpa mengabaikan kebutuhan diri. Mengatakan “tidak” pada waktu yang tepat adalah bentuk kedewasaan dalam menentukan batas yang sehat. Sudah saatnya mengubah cara pandang terhadap budaya tidak enakan: menjaga perasaan orang lain itu penting, tetapi menjaga kesehatan mental dan harga diri sendiri juga tidak kalah penting.






















Tinggalkan Balasan