Media Kampung – Living paradox menjadi fenomena yang kerap dialami oleh anak muda saat ini, di mana seseorang tampak baik-baik saja secara lahiriah namun menyimpan tekanan dan emosi negatif secara tersembunyi. Kondisi ini dibahas secara intens dalam program Sore Ceria Pro 2 RRI Jember pada Sabtu, 16 Mei 2026, dengan menghadirkan sejumlah mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Jember, yaitu Amanda, Ervina, dan Firman.

Diskusi bertajuk “A Living Paradox: Unmasking Emotions We Refuse to Name” mengungkap bahwa berbagai tekanan, mulai dari beban akademik, lingkungan sosial, hingga tuntutan hidup, membuat anak muda memilih untuk menutupi perasaan yang sesungguhnya mereka rasakan. Ervina menyebutkan, gejala yang sering muncul antara lain perilaku menarik diri dari pergaulan, menurunnya rasa percaya diri, dan kecenderungan untuk overthinking yang berlebihan.

Dalam perbincangan tersebut, pentingnya mekanisme koping diangkat sebagai salah satu cara mengatasi tekanan emosional. Beberapa cara yang dianjurkan adalah menekuni hobi, mencari lingkungan yang mendukung, serta menyediakan waktu untuk istirahat guna menjaga kesehatan mental. Mereka pun menegaskan bahwa memohon bantuan dari tenaga profesional adalah hal yang wajar dan tidak perlu dipandang negatif.

Ervina juga mengajak anak muda untuk berhenti membandingkan diri dengan orang lain dan lebih fokus menjalani perjalanan hidup masing-masing. Pesan ini bertujuan membantu generasi muda agar lebih menerima diri dan mampu menghadapi tekanan hidup secara sehat tanpa harus menyembunyikan beban emosional yang ada.

Fenomena living paradox ini menjadi peringatan penting agar masyarakat dan lingkungan sekitar lebih peka terhadap kondisi mental anak muda. Kesadaran dan dukungan yang tepat diharapkan dapat membantu mereka menjalani masa-masa penuh tantangan dengan lebih baik dan sehat secara emosional.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.