Media Kampung – 15 April 2026 | Pakar psikologi pendidikan mengingatkan bahwa krisis ketangguhan mental generasi muda semakin mengkhawatirkan di era disrupsi, sehingga sistem pendidikan harus berbenah untuk membentuk generasi yang tangguh.
Dr. Andi Prasetyo, Kepala Pusat Kajian Psikologi Remaja Universitas Indonesia, menyampaikan pernyataannya pada konferensi nasional di Jakarta, 12 April 2026, menyoroti peningkatan tekanan digital dan persaingan akademik.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa 27 persen remaja berusia 15‑24 tahun mengalami gejala depresi berat, sementara angka bunuh diri pada kelompok usia tersebut naik 15 persen dalam lima tahun terakhir.
“Tanpa intervensi pendidikan yang menyeluruh, generasi muda akan semakin rentan terhadap stres kronis dan kehilangan kemampuan beradaptasi,” ujar Dr. Andi dalam sambutannya.
Metode pembelajaran tradisional yang berfokus pada hafalan dianggap kurang memadai dalam mengembangkan keterampilan emosional, sosial, dan coping yang diperlukan di tengah perubahan cepat.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah meluncurkan program Revitalisasi Kurikulum 2025 yang menekankan pembelajaran berbasis proyek dan penguatan karakter.
Studi banding dengan Finlandia dan Kanada menunjukkan bahwa integrasi pelajaran sosial‑emosional secara konsisten menurunkan tingkat kecemasan siswa hingga 30 persen.
Para pakar merekomendasikan penambahan modul Social‑Emotional Learning (SEL) dalam kurikulum nasional, termasuk pelatihan mindfulness, manajemen konflik, dan teknik relaksasi.
Guru diharapkan menerima pelatihan khusus tentang identifikasi tanda stres dini serta metode dukungan psikologis di kelas.
Keterlibatan orang tua melalui workshop bulanan dan platform komunikasi digital juga dianggap krusial untuk menciptakan lingkungan pendukung di rumah.
Pilot program SEL di tiga sekolah menengah di Surabaya menunjukkan peningkatan skor resilien siswa sebesar 22 poin setelah satu semester penerapan.
Pemerintah tengah menyiapkan regulasi baru yang akan mewajibkan semua sekolah menengah mengadopsi kurikulum SEL mulai tahun ajaran 2027, dengan alokasi anggaran khusus untuk konselor sekolah.
Jika kebijakan ini diimplementasikan secara konsisten, diharapkan tekanan mental pada generasi muda dapat berkurang signifikan, menjadikan pendidikan sebagai garda terdepan dalam membangun ketangguhan mental bangsa.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan