Media Kampung – Fenomena terlihat bahagia di media sosial, lelah di dunia nyata semakin sering dialami, terutama oleh Generasi Z. Banyak orang menampilkan kehidupan yang tampak sempurna di media sosial, namun di balik layar mereka justru merasa cemas, tertekan, dan lelah secara mental.

Menurut tinjauan literatur oleh Waseso dan Wibowo (2026), penggunaan media sosial berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, rendahnya harga diri, gangguan tidur, hingga isolasi sosial. Lantas, apa yang menyebabkan seseorang bisa terlihat bahagia di media sosial namun tetap merasa lelah?

Penyebab Utama

1. Menampilkan Versi Terbaik Diri

Di media sosial, orang cenderung membagikan momen terbaik—foto yang dipilih, pencapaian, dan kebahagiaan—sementara masalah pribadi disembunyikan. Akibatnya, linimasa dipenuhi gambaran kehidupan yang tampak menyenangkan, padahal setiap orang memiliki masalahnya masing-masing.

2. Kebiasaan Membandingkan Diri (Social Comparison)

Melihat orang lain sukses atau bahagia memicu perbandingan sosial. Le Blanc-Brillon dkk. (2025) menemukan bahwa perbandingan ke atas (upward comparison) berkaitan dengan rendahnya harga diri dan munculnya gejala depresi. Kebiasaan inilah yang melelahkan, bukan media sosial itu sendiri.

3. Fear of Missing Out (FOMO)

Rasa takut tertinggal informasi atau tren membuat seseorang terus memeriksa notifikasi dan unggahan terbaru. Akibatnya, pikiran sulit beristirahat karena selalu merasa harus mengikuti perkembangan di dunia maya.

4. Kesenjangan antara Tampilan dan Kenyataan

Media sosial hanya menampilkan sebagian kecil kehidupan. Seseorang bisa terlihat ceria dan aktif, namun di saat yang sama menghadapi tekanan akademik, masalah keluarga, kesepian, atau kelelahan emosional. Unggahan di media sosial bukanlah gambaran utuh kehidupan seseorang.

5. Dampak Ganda Media Sosial

Penelitian Kustiawan dkk. (2025) menunjukkan media sosial juga bermanfaat sebagai ruang berekspresi dan dukungan emosional. Namun, ruang yang sama dapat memunculkan tekanan sosial, komentar negatif, dan informasi tidak akurat. Dampaknya bergantung pada cara penggunaan.

Semakin sering kita menggunakan media sosial, semakin penting untuk mengingat bahwa apa yang terlihat di layar belum tentu mencerminkan kenyataan. Orang yang tampak paling bahagia belum tentu baik-baik saja, dan yang jarang membagikan kehidupannya belum tentu mengalami kesulitan. Menjaga kesehatan mental bukan berarti menjauh dari media sosial, melainkan belajar menggunakannya dengan lebih sadar dan tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.