Media Kampung – 18 April 2026 | Brush Jjaemu menjadi game viral asal Korea yang mengundang perhatian netizen Indonesia sejak April 2026. Game ini menantang pemain untuk menyisir kucing virtual tanpa dipukul oleh hewan tersebut.

Video gameplay pertama dipublikasikan pada 15 April 2026 oleh akun X @artbyeori. Rekaman tersebut memperoleh lebih dari 19 juta tampilan dalam waktu singkat.

Konsep sederhana game ini mengharuskan pemain menggesek layar atau menggerakkan mouse untuk mengumpulkan bulu kucing yang rontok. Setiap bulu yang berhasil disisir menghasilkan satu poin.

Tantangan utama muncul ketika kucing, yang dinamakan “oyen”, tiba‑tiba menoleh. Jika pemain masih menyisir pada saat itu, kucing akan menerkam dan skor akan direset.

Skor tertinggi yang tercatat di media sosial melebihi 300 poin. Banyak pengguna Twitter dan TikTok membagikan hasil mereka dengan tagar #BrushJjaemu.

Pada 18 April 2026, portal berita IDN Times menulis panduan lengkap cara bermain game tersebut. Panduan itu menekankan pentingnya kecepatan dan ketepatan dalam mengatur gerakan sisir.

Pemain harus menilai pola gerakan mata kucing secara real‑time. Kucing biasanya menatap ke samping selama tiga hingga lima detik sebelum berbalik.

Jika pemain menunggu terlalu lama, peluang mengumpulkan bulu berkurang secara signifikan. Sebaliknya, gerakan terlalu cepat meningkatkan risiko terdeteksi.

Pengembang game, yang terdaftar di platform itch.io dengan nama pengguna “byeorisim”, menyediakan versi gratis yang dapat diakses melalui browser. Tidak diperlukan instalasi tambahan.

Versi mobile juga tersedia dan dioptimalkan untuk layar sentuh. Pengguna Android dan iOS dapat memainkan game ini tanpa biaya.

Sejumlah situs berita teknologi Indonesia mencatat lonjakan pencarian kata kunci “Brush Jjaemu” di Google. Pencarian tersebut meningkat lebih dari 250% dalam seminggu pertama setelah video viral.

Para pakar psikologi game menyebut game ini sebagai contoh “micro‑challenge” yang memicu adrenalin. Mekanisme jump scare kucing menciptakan sensasi menegangkan dalam sesi singkat.

Salah satu pemain profesional mengaku menghabiskan lebih dari tiga jam per hari untuk meningkatkan rekor pribadi. Ia menambahkan, ‘Saya harus menahan napas ketika kucing menoleh, karena satu gerakan salah langsung mengakhiri sesi.’

Beberapa komentar netizen mengusulkan agar game ini dijadikan e‑sport karena tingkat kompetitifnya yang tinggi. Ide tersebut masih dalam tahap diskusi komunitas.

Menurut data analitik situs penyedia game, rata‑rata durasi sesi pemain berkisar antara 45 hingga 90 detik. Durasi ini mencerminkan tingkat kesulitan yang meningkat secara progresif.

Game ini juga menarik perhatian pelajar karena sifatnya yang mudah diakses dan menantang. Sekolah‑sekolah di beberapa kota mengadakan turnamen internal.

Selain Indonesia, negara lain seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand juga melaporkan peningkatan pemain aktif. Hal ini menandakan penyebaran tren game Asia Timur ke wilayah Asia Tenggara.

Platform media sosial TikTok menampilkan lebih dari 1.200 video berlabel #BrushJjaemu dalam satu minggu terakhir. Video‑video tersebut menampilkan reaksi kaget pemain ketika kucing menyerang.

Pengembang game menyatakan rencana penambahan level baru dengan variasi kucing yang memiliki perilaku berbeda. Pembaruan tersebut dijadwalkan rilis pada kuartal ketiga 2026.

Untuk menghindari pelanggaran hak cipta, pengembang menggunakan musik latar bebas royalti. Suara latar menambah suasana tegang tanpa mengganggu konsentrasi pemain.

Sejumlah kritikus game menilai bahwa meskipun tampak sederhana, Brush Jjaemu menguji refleks motorik dan koordinasi visual secara efektif. Mereka memuji desain UI yang bersih.

Namun, ada juga masukan bahwa efek jump scare kucing dapat menyebabkan stres pada pemain sensitif. Beberapa platform menyarankan penambahan opsi pengaturan intensitas suara.

Dalam laporan resmi, platform itch.io mencatat total kunjungan lebih dari 5 juta sejak peluncuran. Tingkat retensi pemain selama 30 hari mencapai 42%.

Media lokal di Jakarta melaporkan bahwa kafe internet mulai menambahkan Brush Jjaemu ke daftar permainan mereka. Ini meningkatkan interaksi sosial di antara pengunjung.

Pada 20 April 2026, sebuah event daring diadakan dengan hadiah uang tunai bagi tiga pemain dengan skor tertinggi. Event tersebut menarik lebih dari 10.000 partisipan.

Penelitian awal oleh Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia mengindikasikan bahwa permainan ini dapat meningkatkan kecepatan respons visual hingga 15%. Penelitian tersebut masih dalam tahap publikasi.

Pengguna yang gagal menghindari serangan kucing akan melihat layar hitam dengan tulisan merah “You died”. Pesan ini menjadi ciri khas yang mudah dikenali.

Beberapa influencer game Indonesia mengunggah tutorial singkat tentang strategi menunggu mata kucing beristirahat. Tutorial tersebut menjadi panduan populer bagi pemula.

Platform streaming Twitch mencatat lonjakan penonton pada channel yang menyiarkan gameplay Brush Jjaemu. Penonton mencapai puncak 120 ribu pada sesi tertentu.

Pengembang berencana menambahkan mode multiplayer di mana dua pemain bersaing dalam mengumpulkan poin pada satu kucing. Fitur ini dijadwalkan rilis pada akhir tahun.

Sejak viral, Brush Jjaemu menjadi bahan diskusi dalam forum game internasional. Pengguna dari luar Asia memberikan ulasan positif mengenai tantangan yang unik.

Dalam konteks budaya, game ini mencerminkan kecintaan masyarakat Korea terhadap hewan peliharaan dalam bentuk hiburan digital. Konsep serupa pernah muncul dalam game lain namun tidak sepopuler ini.

Kondisi terbaru menunjukkan bahwa Brush Jjaemu tetap berada di peringkat teratas situs agregator game indie pada bulan April 2026. Popularitasnya diperkirakan akan bertahan selama beberapa bulan ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.