Media Kampung – 16 April 2026 | Seorang pelajar SMK berusia 17 tahun di Kecamatan Muncar, Banyuwangi, ditemukan meninggal akibat gantungan pada 16 April 2024, dengan dugaan kuat penyebab depresi yang dipicu masalah keluarga. Kasus ini menimbulkan keprihatinan terkait kesehatan mental remaja di wilayah tersebut.
Korban, yang dikenal dengan inisial MBN, pertama kali ditemukan oleh neneknya sekitar pukul 07.00 WIB di belakang rumah, tepatnya 10 meter dari bangunan utama. Menurut keterangan saksi, tubuhnya tergantung pada tali tambang yang diikat pada pohon di area tersebut.
Kapolsek Muncar, AKP Mujiono, menyatakan pemeriksaan awal tidak menemukan tanda-tanda kekerasan fisik pada jenazah. Tim forensik memperkirakan waktu kematian sekitar pukul 04.30 WIB, sebelum korban ditemukan.
MBN merupakan siswa kelas X di sebuah SMK di Muncar dan selama ini tinggal bersama nenek serta ayahnya, sementara ibunya tinggal terpisah. Kondisi tempat tinggalnya terbilang sederhana, namun tidak ada laporan sebelumnya mengenai gangguan perilaku yang signifikan.
Mujiono menambahkan, “Ada dugaan korban mengalami tekanan karena kondisi keluarganya, namun kami masih mendalami berdasarkan keterangan para saksi,” dan menegaskan bahwa penyelidikan masih berjalan. Pihak kepolisian juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan tanda‑tanda stres pada anak dan segera mencari bantuan profesional.
Keluarga korban telah menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut secara hukum, menyatakan kejadian ini sebagai musibah yang tidak terduga. Pihak berwenang terus mengumpulkan bukti, sementara layanan konseling dan hotline kesehatan mental tetap dibuka bagi siapa pun yang membutuhkan.
Sementara penyelidikan forensik masih mengumpulkan bukti tambahan, pihak kepolisian menegaskan bahwa tidak ada indikasi keterlibatan pihak lain dalam kematian tersebut. Masyarakat diminta untuk melaporkan setiap perilaku mencurigakan atau tanda‑tanda krisis mental kepada layanan darurat atau pusat bantuan psikologis yang tersedia secara 24 jam.
Warga Muncar mengadakan doa bersama di balai desa pada sore hari sebagai bentuk penghormatan serta dukungan moral bagi keluarga yang berduka. Acara tersebut juga menjadi momentum bagi tokoh agama dan pejabat setempat untuk menekankan pentingnya dialog terbuka mengenai masalah keluarga dan kesehatan mental.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan