Media Kampung – Dalam rangka memperkuat pendekatan One Health, dokter hewan ditugaskan mengatasi ancaman zoonosis sekaligus menjamin keamanan pangan serta melindungi lingkungan di Indonesia.
Momentum peringatan Hari Dokter Hewan Sedunia pada 25 April menjadi titik refleksi atas peran strategis para profesional veteriner dalam kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
Prof. Dr. drh. Widagdo Sri Nugroho, Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM menegaskan dokter hewan memiliki posisi kunci dalam menjaga keseimbangan antara kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem.
Ia menambahkan, “Tidak bisa hanya fokus pada hewan saja, karena lingkungan juga menjadi perhatian dalam pengelolaannya.”
Zoonosis tetap menjadi isu kritis karena mayoritas penyakit menular baru bersumber dari hewan, sementara keterbatasan vaksin dan akses ke daerah endemik memperparah risiko.
Faktor sosial‑budaya, seperti ketakutan terhadap vaksin dan kebiasaan konsumsi daging sakit, turut memperumit upaya pencegahan.
Widagdo menegaskan, “Tidak hanya sekadar teknis kesehatan hewan, tetapi juga menyangkut pengetahuan dan latar belakang sosial budaya masyarakat.”
Dalam konteks keamanan pangan, dokter hewan bertanggung jawab mengawasi rantai produksi mulai dari budidaya hingga pasca panen untuk mencegah residu kimia dan kontaminasi mikroba.
Ia menekankan, “Setelah proses pasca panen menjamin tidak ada cemaran mikroba sehingga produk yang dihasilkan itu tidak membawa agen penyakit untuk bisa menular ke manusia.”
Pengelolaan limbah produksi hewan juga menjadi bagian penting guna mencegah gangguan lingkungan yang dapat berbalik mempengaruhi kesehatan publik.
Peran veteriner dalam konservasi satwa liar kini meluas ke kegiatan penyelamatan, rehabilitasi, dan edukasi masyarakat tentang bahaya konsumsi satwa liar.
Widagdo menambahkan, “Edukasi berbasis pendekatan One Health penting dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu, termasuk sosial dan budaya, guna mengubah perilaku masyarakat secara berkelanjutan.”
Meski regulasi terkait perlindungan habitat sudah ada, konsistensi pelaksanaannya masih lemah dan membutuhkan komitmen lintas sektor.
Ia menekankan, “Kuncinya ada pada political will pemerintah. Harus ada keberpihakan nyata yang diwujudkan dalam program-program seperti vaksinasi, edukasi, dan kesiapsiagaan terhadap penyakit baru.”
Penguatan peran dokter hewan diharapkan didukung program konkret seperti vaksinasi massal, pelatihan praktik peternakan baik, serta kesiapsiagaan menghadapi patogen baru.
Anggaran yang memadai menjadi prasyarat agar kebijakan dapat diimplementasikan secara optimal di lapangan.
Pemerintah saat ini sedang merumuskan kebijakan terintegrasi One Health yang mencakup pendanaan khusus, koordinasi lintas kementerian, dan target pencapaian vaksinasi di daerah rawan.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa sinergi antara dokter hewan, ilmuwan, dan pembuat kebijakan menjadi kunci utama untuk mengatasi ancaman zoonosis, memperkuat keamanan pangan, dan melindungi ekosistem nasional.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan