Media Kampung – Intel baru saja mengumumkan prosesor Arc G3 dan G3 Extreme berbasis Panther Lake untuk perangkat handheld gaming PC yang menjanjikan pengalaman bermain game yang mulus saat bepergian. Namun, semua indikasi menunjukkan bahwa harga perangkat ini akan sangat mahal dan sulit dijangkau konsumen.
Pengumuman ini muncul setelah Valve menaikkan harga Steam Deck OLED secara signifikan, dengan versi 1 TB kini dijual seharga 949 dolar AS, naik dari 649 dolar AS sebelumnya. Kenaikan ini mencerminkan kondisi biaya komponen dan tantangan logistik global yang sedang terjadi.
Tren kenaikan harga ini dipicu oleh kelangkaan memori akibat industri kecerdasan buatan, konflik geopolitik yang mengganggu pasokan bahan baku, serta kondisi ekonomi yang memburuk. Tidak ada tanda-tanda penurunan harga dalam waktu dekat.
Perangkat handheld gaming yang sudah ada, seperti Asus ROG Xbox Ally X dan Lenovo Legion Go S, sudah mulai menunjukkan harga yang tinggi sejak awal. Contohnya, Asus ROG Xbox Ally X dibanderol sekitar 1.000 dolar AS, sementara Lenovo Legion Go S juga dianggap mahal saat peluncuran.
Bagi yang mengincar handheld berbasis Intel, pilihan utama saat ini adalah MSI Claw, khususnya varian Claw 8 AI+ A2VM dengan harga awal 900 dolar AS untuk model 1 TB dan RAM 32 GB. Namun, harga pasar saat ini sudah melampaui 1.000 dolar AS.
Lebih lanjut, perangkat handheld dengan prosesor Intel Arc G-series terbaru yang sudah muncul di beberapa daftar retailer di Australia dan Eropa diperkirakan akan dibanderol sekitar 1.800 dolar AS atau lebih. Harga ini adalah harga awal yang masih bisa naik seiring waktu.
Dengan situasi pasar komponen yang sulit dan prediksi beberapa CEO teknologi bahwa banyak perusahaan bisa bangkrut akibat kelangkaan memori, masa depan handheld gaming PC dengan prosesor Intel ini tampak kurang menjanjikan bagi konsumen yang mencari alternatif murah untuk gaming PC.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan