Media Kampung – Pengurus Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur, Ali Yusa, mendorong penguatan pendekatan berbasis resapan air dalam pengendalian banjir perkotaan. Menurutnya, strategi pengendalian banjir tidak hanya perlu fokus pada percepatan pembuangan air, tetapi juga meningkatkan kemampuan kota dalam menyerap dan menahan air hujan.

Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur Surabaya pada 22 hingga 23 Juni 2026 menjadi pengingat pentingnya pengelolaan air perkotaan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan di Jawa Timur dipengaruhi oleh dinamika musim peralihan dan aktivitas gelombang atmosfer, sehingga hujan deras masih mungkin terjadi meski sebagian wilayah telah memasuki musim kemarau.

Pendekatan Infrastruktur Perlu Dilengkapi

Ali Yusa menilai pengendalian banjir selama ini masih didominasi pendekatan infrastruktur seperti pembangunan saluran drainase, rumah pompa, dan percepatan aliran air menuju sungai atau laut. Pendekatan tersebut tetap diperlukan, namun perlu dilengkapi dengan upaya meningkatkan kapasitas resapan air di kawasan perkotaan.

“Pertanyaan mendasarnya bukan hanya bagaimana air dialirkan, tetapi ke mana air harus disimpan. Kota modern tidak hanya harus mampu mengalirkan air, tetapi juga meresapkan dan menahannya,” ujar Ali Yusa, Selasa 23 Juni 2026.

Berkurangnya ruang terbuka dan meningkatnya permukaan kedap air di perkotaan menyebabkan air hujan lebih banyak menjadi limpasan permukaan. Akibatnya, beban saluran drainase meningkat saat hujan turun dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat. “Air hujan yang tidak dapat meresap akan langsung menuju saluran. Ketika volume air meningkat dalam waktu singkat, beban sistem drainase juga akan semakin besar,” jelasnya.

Solusi Berbasis Infiltrasi

Ali Yusa mencontohkan sejumlah kota di dunia mulai menerapkan konsep water sensitive city dan sponge city, yaitu pendekatan yang mengedepankan kemampuan kota untuk menyerap, menyimpan, dan memanfaatkan air hujan sebagai bagian dari sistem lingkungan perkotaan. Ia mendorong pengembangan solusi berbasis infiltrasi seperti sumur resapan, kawasan retensi, pelestarian daerah tangkapan air, dan penambahan ruang terbuka hijau.

“Infiltrasi merupakan bagian penting dalam pengelolaan air perkotaan. Selain membantu mengurangi limpasan permukaan, cara ini juga berkontribusi terhadap pengisian kembali cadangan air tanah,” katanya.

Pendekatan Sistem Daerah Aliran Sungai

Ali Yusa juga mengingatkan pentingnya melihat pengendalian banjir secara menyeluruh dalam satu sistem daerah aliran sungai. Setiap intervensi pada sistem drainase perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kawasan lain agar tidak menimbulkan risiko baru di wilayah hilir.

Ia berharap pengembangan infrastruktur pengendalian banjir di Surabaya ke depan tidak hanya fokus pada peningkatan kapasitas saluran dan rumah pompa, tetapi juga memperkuat kemampuan kota dalam menyerap dan menyimpan air hujan. “Ketahanan kota terhadap banjir membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Drainase dan rumah pompa tetap diperlukan, tetapi harus didukung oleh upaya menjaga fungsi resapan air sebagai bagian dari sistem pengelolaan lingkungan perkotaan,” tuturnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.