Media Kampung – Malang – Transformasi digital menjadi kebutuhan penting bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan daya saing di era ekonomi modern. Namun, banyak usaha kecil masih terhambat oleh masalah keuangan mendasar yang belum terselesaikan.

Kesalahan paling umum adalah penghitungan harga pokok produksi (HPP) yang belum tepat. Banyak pelaku usaha belum memasukkan biaya transportasi, gaji, dan komponen operasional lain dalam perhitungan mereka. Akibatnya, harga jual produk tidak mencerminkan biaya sebenarnya, sehingga keuntungan sulit diraih meskipun penjualan meningkat.

Yunida Paramita, SAB Konsultan Bisnis dan Pendamping UMKM Owner Anja Mukti Education, menyampaikan hal ini pada Selasa (09/10/2026). Menurutnya, penghitungan HPP yang akurat menjadi fondasi penting sebelum menerapkan strategi pemasaran atau digitalisasi keuangan. Jika dasar keuangan kuat, pencatatan digital dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat maksimal.

Selain HPP, masalah lain adalah rendahnya kedisiplinan dalam pencatatan keuangan. Banyak pelaku UMKM tidak memiliki data keuangan akurat ketika diminta oleh dinas atau calon investor. Ketidaklengkapan data membuat mereka sulit menjelaskan kondisi bisnis secara jelas, padahal informasi keuangan yang akurat merupakan syarat penting untuk pengembangan usaha berkelanjutan.

Yunida menekankan perlunya dukungan menyeluruh dan terintegrasi. Pelatihan, pendampingan, akses permodalan, dan dukungan teknologi harus berjalan bersamaan. Literasi keuangan menjadi kebutuhan utama sebelum pelaku usaha memasuki digitalisasi yang lebih luas. Pemahaman keuangan yang baik akan mengubah pola pikir pemilik usaha dalam mengambil keputusan bisnis.

Ia juga menyoroti pentingnya pendampingan berkelanjutan setelah pelatihan. Banyak peserta pelatihan belum memperoleh hasil optimal karena kurang mendapat pendampingan setelah kegiatan selesai. Pendampingan memastikan materi dapat diterapkan secara konsisten dalam usaha sehari-hari.