Media Kampung, Jakarta – Aktivitas gunung berapi di Indonesia kembali meningkat pada awal September 2026. Anak Krakatau meletus kembali bersamaan dengan tiga gunung lain, menimbulkan awan abu, penutupan bandara, dan menimbulkan kekhawatiran bagi satwa liar serta wilayah tetangga.

Serangkaian letusan terjadi pada 10 September, melibatkan Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ibu di Maluku Utara, dan Gunung Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, selain Anak Krakatau di Selat Sunda. Meskipun sebagian letusan tidak terlihat secara visual, data seismik dan pemantauan satelit mengonfirmasi aktivitas signifikan.

Baca juga:
  • Anak Krakatau: erupsi pada pukul 09.10 WIB, kolom abu tidak teramati karena kabut, status tetap pada Level III (Siaga).
  • Gunung Semeru: dua kali erupsi dengan durasi masing‑masing 41‑45 detik, amplitudo maksimum 18‑28 mm.
  • Gunung Ibu: enam erupsi tercatat, durasi 41‑187 detik, amplitudo hingga 28 mm.
  • Gunung Lewotolok: empat erupsi, durasi singkat, menghasilkan abu yang menutupi bandara Wunopito di Lewoleba.

Akibat abu vulkanik, beberapa bandara di wilayah timur Indonesia, termasuk Soekarno‑Hatta dan Wunopito, mengalami penutupan sementara. Penerbangan domestik dan internasional terganggu, memaksa ribuan penumpang mencari alternatif.

Di sisi lain, populasi Badak Jawa yang terpusat di Taman Nasional Ujung Kulon dilaporkan tetap aman meski berada dalam jarak 50 km dari letusan Anak Krakatau. Guncangan dan debu tidak menyebabkan kerusakan signifikan, namun para ahli tetap mengingatkan risiko tsunami atau letusan lebih besar yang dapat mengancam habitat tunggal tersebut.

Baca juga:

Pihak Meteorologi Malaysia mengonfirmasi bahwa abu dari Anak Krakatau tidak memasuki wilayah udara Malaysia. Pantauan menunjukkan awan abu bergerak ke arah Samudra Hindia di barat laut Sumatra, sehingga tidak menimbulkan bahaya kesehatan atau gangguan penerbangan di Malaysia.

Pemantauan terus dilakukan oleh pusat vulkanologi Indonesia dan lembaga internasional, termasuk observatorium di Darwin, Australia. Pemerintah menegaskan bahwa fenomena El Niño yang sedang berlangsung tidak berhubungan langsung dengan aktivitas vulkanik, meskipun keduanya terjadi bersamaan.

Baca juga:

Dengan tingkat kewaspadaan tetap pada Level III, otoritas mengimbau masyarakat di sekitar zona rawan untuk mengikuti instruksi evakuasi, menghindari area berbahaya, dan memantau informasi resmi guna mengurangi dampak potensial.