**Media Kampung, Jakarta** – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah tetap mempertahankan BBM subsidi meski harga minyak dunia menembus US$100 per barel.
Kenaikan tajam terjadi pada akhir September 2026, dengan harga Brent mencapai US$107,63 per barel dan WTI naik 6,7% menjadi US$102,48 per barel. Meski demikian, rata‑rata harga Indonesia Crude Price (ICP) tetap berada di kisaran US$85‑90 per barel, dianggap masih aman.
Koordinasi intensif antara Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan, atas arahan Presiden Prabowo Subianto, menghasilkan keputusan untuk tidak menaikkan tarif BBM subsidi. Bahlil menambahkan bahwa kebijakan ini bertujuan melindungi daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah.
Tarif BBM subsidi yang dipertahankan adalah Rp 6.800 per liter untuk Biosolar dan Rp 10.000 per liter untuk Pertalite. Berikut rincian harga BBM subsidi di wilayah Jawa pada 11 September 2026:
| Jenis BBM | Harga (Rp/Liter) |
|---|---|
| Biosolar (Subsidi) | 6.800 |
| Pertalite (Subsidi) | 10.000 |
Keputusan menahan kenaikan tarif menambah beban pada anggaran subsidi energi. Bahlil mengakui peningkatan alokasi subsidi akan menambah beban fiskal, namun Presiden menilai perlindungan daya beli lebih penting daripada menyesuaikan harga.
Selain BBM subsidi, beberapa produk bensin nonsubsidi seperti Pertamax Green 95 mengalami kenaikan harga menjadi Rp 19.150 per liter, menandakan tekanan harga global tetap dirasakan pada pasar domestik.
Dengan kebijakan ini, pemerintah berharap menjaga stabilitas harga bahan bakar bagi konsumen sekaligus menyiapkan anggaran tambahan untuk menutupi peningkatan beban subsidi.







Tinggalkan Balasan