**Media Kampung, Jakarta** – BNPB menegaskan bahwa status Gunung Anak Krakatau tetap berada pada level III (Siaga) menyusul serangkaian aktivitas vulkanik terbaru. Probabilitas terjadinya erupsi lanjutan dinilai masih tinggi, sehingga masyarakat di sekitar kawasan harus tetap waspada.
Penetapan status tersebut didasarkan analisis Badan Geologi yang mencatat fase erupsi Strombolian episodik sebanyak 14 kali hingga 11 September 2026, serta peningkatan gempa vulkanik dalam yang menandakan suplai magma masih aktif. Data seismik mencatat satu gempa erupsi, 21 gempa low‑frequency, 13 gempa hybrid, 28 gempa dangkal, 18 gempa dalam, serta tremor terus‑menerus pada 10‑11 September.
Bahaya utama yang dapat mengancam publik meliputi:
- Lontaran batu pijar (tephra) yang dapat melukai atau merusak properti;
- Hujan abu lebat yang mengganggu penerbangan dan kualitas udara;
- Potensi aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi.
BNPB mengingatkan agar tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Masyarakat pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang, melanjutkan aktivitas normal, dan tidak mempercayai informasi tsunami yang belum dikonfirmasi oleh kanal resmi.
Selain itu, Kementerian Kesehatan memantau kualitas udara dan menemukan konsentrasi PM2,5 di beberapa titik bandara masih di atas batas aman, sehingga penggunaan masker dianjurkan. Upaya pencarian jurnalis yang hilang di area Selat Sunda juga terus dilakukan dengan pengerahan kapal SAR, menegaskan pentingnya koordinasi lintas lembaga dalam menghadapi situasi darurat.
Dengan status Siaga yang masih berlaku, BNPB akan terus memantau dinamika Anak Krakatau dan memberikan informasi terbaru secara berkala kepada publik.








Tinggalkan Balasan