Media Kampung – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memberikan respons terkait kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen. Menurutnya, kenaikan ini merupakan sinyal kuat yang dibutuhkan pasar, terbukti dari respons positif Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah.
Dalam keterangannya, Airlangga menyatakan bahwa BI mengutamakan kestabilan nilai tukar rupiah dan pasar modal. Hal ini terlihat dari penutupan perdagangan pada Selasa (9/6) di mana IHSG melambung signifikan 404,51 poin atau 7,57 persen ke level 5.746,648. Sementara itu, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat ke level Rp18.050 per dolar AS.
“Dengan BI rate naik, kelihatan respons daripada IHSG juga baik, masuk dalam green zone. Kemudian yang kedua, rupiah juga sedikit menguat. Jadi respons dari pasar terhadap stabilisasi dari BI rate ini cukup baik,” ungkap Airlangga saat ditemui di kantornya, Rabu (10/6).
Airlangga menjamin fundamental perekonomian Indonesia masih kuat dan menegaskan bahwa kebijakan BI rate tersebut tidak terburu-buru. Sebelumnya, pada akhir Mei, BI telah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin. “Tidak terburu-buru, minggu lalu kan naik,” tegasnya.
Meskipun ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) mingguan, Airlangga menilai kenaikan BI rate merupakan sinyal kuat yang diperlukan oleh para investor. “Market membutuhkan signal yang kuat, dan dengan kenaikan BI rate 25 basis point itu market melihat Indonesia responsif terhadap gejolak ataupun situasi yang ada sekarang,” tandas Airlangga.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak gejolak global akibat perang di Timur Tengah. Kenaikan ini juga bersifat pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap dalam kisaran target 2,5–1 persen yang ditetapkan pemerintah.
“Kebijakan ini juga ditujukan untuk meningkatkan imbal hasil bagi daya tarik masuknya aliran masuk investasi portofolio asing ke Indonesia,” kata Denny dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6). Selain itu, suku bunga Deposit Facility naik 25 bps menjadi 4,50 persen dan suku bunga Lending Facility naik 25 bps menjadi 6,25 persen.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan