Media Kampung – Mantan Menteri Keuangan sekaligus ekonom senior Chatib Basri mengungkapkan penyebab nilai tukar rupiah menembus level Rp 18 ribu per dolar Amerika Serikat. Menurutnya, pelemahan rupiah saat ini dipicu oleh faktor eksternal, seperti ketidakpastian global, konflik geopolitik di Timur Tengah, serta tingginya suku bunga acuan Amerika Serikat yang mendorong penguatan dolar.
Chatib menegaskan bahwa kondisi saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998. Perbedaan utama terletak pada sistem nilai tukar yang lebih fleksibel sehingga mampu menyerap guncangan eksternal. Ia juga menambahkan bahwa pelaku usaha dan masyarakat kini lebih siap menghadapi fluktuasi nilai tukar dibandingkan masa lalu.
Meski rupiah tertekan, Chatib optimistis ekonomi Indonesia tidak menuju resesi. Pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,5 hingga 5 persen dinilai masih positif di tengah tekanan global. Namun, ia mengingatkan bahwa pelemahan rupiah berpotensi memicu kenaikan harga barang, terutama yang berdampak pada masyarakat menengah bawah.
Dalam laporan kepada Presiden Prabowo Subianto, Chatib bersama Dewan Ekonomi Nasional menyoroti risiko inflasi akibat pelemahan rupiah. Ia merekomendasikan pemerintah untuk menjaga kepercayaan publik melalui efisiensi anggaran, termasuk program Makan Bergizi Gratis, serta memperkuat daya beli masyarakat.
Bank Indonesia telah merespons dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen untuk menstabilkan rupiah dan mengendalikan inflasi. Langkah ini diharapkan dapat menarik aliran modal asing dan memperkuat nilai tukar.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan