Media Kampung – Nilai tukar rupiah melemah signifikan dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada perdagangan Senin (8/6/2026), mencerminkan tekanan kuat dari faktor global. Rupiah tercatat di level Rp 18.200 per dolar AS, melemah 0,91%, sementara IHSG dibuka turun 3,1% dan semakin jatuh hingga 4,15% ke level 5.362.

Penyebab Pelemahan Rupiah

Pelemahan rupiah dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih kuat dari perkiraan, membuka peluang bank sentral AS (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah berpotensi terus melemah hingga menyentuh Rp 19.000 per dolar AS pada akhir bulan.

Analis Lukman Leong menambahkan bahwa penguatan dolar AS pasca-rilis data pekerjaan serta meningkatnya tensi geopolitik global menjadi penyebab utama tekanan pada rupiah. Transaksi awal menunjukkan volume perdagangan mencapai 1,23 miliar saham dengan nilai Rp 896,9 miliar, mengindikasikan aksi jual masif.

IHSG Tertekan Aksi Jual Asing

Chief Economist Bank BTN, Myrdal Gunarto, menjelaskan pelemahan IHSG dipicu perpindahan dana investor global ke aset negara maju seperti AS, menyusul data tenaga kerja AS yang kuat dan antisipasi kenaikan suku bunga The Fed. Pengamat pasar modal Desmond Wira menambahkan bahwa koreksi pasar saham global, khususnya di sektor teknologi, serta potensi kenaikan suku bunga The Fed turut menekan IHSG. Tekanan diperparah oleh aksi jual bersih signifikan investor asing.

Sektor yang Masih Menarik

Meskipun demikian, Myrdal Gunarto mengidentifikasi sektor energi, pertanian, pangan, dan manufaktur masih memiliki prospek menarik karena diuntungkan oleh pelemahan rupiah dan permintaan ekspor. Namun, Desmond Wira memproyeksikan sentimen negatif masih akan membayangi pasar domestik dalam waktu dekat dengan koreksi yang bersifat menyeluruh.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.