Media Kampung – Teluk Tomini tidak hanya dikenal sebagai salah satu teluk terbesar di Indonesia dengan kekayaan sumber daya laut melimpah, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi ribuan masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan, perdagangan, pariwisata, dan UMKM. Di Gorontalo, aktivitas ekonomi masyarakat pesisir kini tidak lagi semata-mata bergantung pada hasil tangkapan laut, melainkan juga pada pertumbuhan usaha pengolahan hasil perikanan, kuliner lokal, kerajinan, hingga jasa wisata. Fenomena ini menunjukkan UMKM telah menjadi denyut utama ekonomi lokal sekaligus penggerak transformasi ekonomi pesisir menuju ekonomi biru.
UMKM Pesisir dan Tantangan Kesejahteraan
Badan Pusat Statistik mencatat bahwa pada Maret 2022 terdapat sekitar 3,9 juta penduduk pesisir yang hidup dalam kemiskinan ekstrem, lebih dari dua kali lipat dibandingkan 1,65 juta penduduk di wilayah non-pesisir. Jumlah penduduk miskin di kawasan pesisir mencapai 17,74 juta orang, sementara di wilayah non-pesisir sekitar 8,4 juta orang. Kondisi ini menunjukkan potensi ekonomi kelautan yang besar masih menyisakan tantangan serius dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat bahwa UMKM menyumbang lebih dari 60 persen terhadap PDB nasional serta menyerap hampir 97 persen tenaga kerja Indonesia. Di Gorontalo, peran UMKM semakin penting karena struktur ekonomi daerah masih ditopang oleh sektor pertanian, perikanan, dan perdagangan yang menjadi kontributor utama PDRB sekaligus penyerap tenaga kerja terbesar.
Wisata Hiu Paus Botubarani sebagai Ikon Ekonomi Biru
Salah satu contoh nyata penerapan ekonomi biru adalah berkembangnya wisata hiu paus di Desa Botubarani. Kehadiran wisata bahari ini tidak hanya menarik wisatawan domestik dan mancanegara, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui jasa wisata, kuliner, transportasi lokal, dan penjualan produk UMKM. Wisata hiu paus menunjukkan bahwa kawasan pesisir memiliki peluang mengembangkan sumber-sumber ekonomi baru yang melengkapi aktivitas perikanan dan pemanfaatan sumber daya laut.
Nilai positif ini semakin kuat karena ditopang oleh kearifan lokal Gorontalo, yaitu huyula atau semangat gotong royong. Melalui tradisi huyula, masyarakat secara swadaya bekerja sama menjaga kebersihan pantai, mendukung aktivitas ekonomi lokal, serta ikut mengawasi kegiatan wisata agar tetap selaras dengan kelestarian lingkungan.
Tantangan Digitalisasi dan Akses Modal
Meski demikian, perjalanan UMKM pesisir menuju kemandirian masih menghadapi berbagai tantangan. Keterbatasan akses modal menjadi hambatan utama pengembangan usaha di kawasan pesisir. Minimnya promosi pemasaran, rendahnya keterampilan manajerial, serta lemahnya kemampuan beradaptasi terhadap perubahan pasar membuat banyak UMKM sulit berkembang optimal. Kesenjangan digital juga menjadi kendala utama dalam proses transformasi usaha, karena rendahnya literasi digital dan keterbatasan infrastruktur teknologi membuat banyak pelaku UMKM belum mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Lemahnya pengelolaan keuangan usaha juga menjadi masalah. Banyak pelaku UMKM pesisir masih menjalankan usaha tanpa pencatatan keuangan yang sistematis sehingga mengalami kesulitan dalam mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan formal. Pengelolaan keuangan yang baik merupakan prasyarat penting untuk memperoleh tambahan modal dan menjaga keberlanjutan bisnis.
Transformasi Digital dan Ekonomi Biru
Di tengah berbagai tantangan, transformasi digital menjadi salah satu jalan yang menjanjikan. Digitalisasi memungkinkan UMKM memperluas akses pasar, meningkatkan efisiensi usaha, serta membuka peluang pembiayaan yang lebih luas. Di Gorontalo, berbagai program pembinaan telah diarahkan pada penguatan UMKM melalui digitalisasi, termasuk penggunaan QRIS, e-commerce, dan sistem pembayaran digital lainnya.
Penguatan UMKM pesisir tidak cukup hanya melalui digitalisasi dan peningkatan produktivitas. Pembangunan kawasan pesisir saat ini juga menghadapi tantangan besar berupa perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan menurunnya kualitas ekosistem laut. Karena itu, orientasi pembangunan perlu bergeser dari sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi menuju pembangunan yang mampu menjaga keseimbangan antara manfaat ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.
Masa Depan Ekonomi Pesisir Gorontalo
Sebagai kawasan yang menopang berbagai aktivitas perikanan, pariwisata, dan perdagangan pesisir, Teluk Tomini memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi salah satu contoh penerapan ekonomi biru sekaligus pusat inovasi pembangunan pesisir berkelanjutan di Indonesia bagian timur. Gorontalo memiliki modal kuat untuk mengembangkan ekonomi biru, seperti wisata hiu paus Botubarani dan ekowisata di kawasan pesisir Bone Bolango yang menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru dengan tetap memperhatikan aspek konservasi lingkungan.
Kehadiran wisatawan mendorong berkembangnya usaha kuliner, penyewaan perahu, penjualan cendera mata, dan berbagai aktivitas ekonomi lainnya yang menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal. Pengelolaan berbasis konservasi membantu menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir sebagai aset ekonomi jangka panjang.
Masa depan ekonomi pesisir Gorontalo tidak lagi dapat hanya diukur dari banyaknya hasil tangkapan ikan atau besarnya investasi yang masuk. Keberhasilan pembangunan harus diukur dari kemampuan menciptakan nilai tambah ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya laut. UMKM pesisir memiliki peran sentral dalam proses tersebut karena mereka berada di titik pertemuan antara aktivitas ekonomi, pemberdayaan masyarakat, dan pemanfaatan sumber daya lokal. Melalui penguatan UMKM, transformasi digital, pemanfaatan modal sosial huyula, dan penerapan prinsip ekonomi biru, kawasan pesisir dapat berkembang menjadi pusat pertumbuhan yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan secara sosial dan ekologis.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan