Media Kampung – Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Mei 2026 tercatat sebesar Rp180,4 triliun, setara 0,70 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini meningkat dibandingkan defisit bulan April yang sebesar Rp164,4 triliun atau 0,64 persen PDB.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa APBN hingga akhir Mei 2026 terus dioptimalkan sebagai shock absorber dan penggerak ekonomi. Pendapatan negara tumbuh kuat, sementara belanja negara bersifat ekspansif untuk memperkuat aktivitas ekonomi dan melindungi masyarakat.
Belanja negara tercatat mencapai Rp1.365,4 triliun, tumbuh 34,4 persen secara tahunan. Pendapatan negara juga meningkat 19,1 persen menjadi Rp1.185 triliun. Meskipun defisit melebar, keseimbangan primer masih mencatat surplus sebesar Rp58,6 triliun pada Mei 2026.
Penerimaan pajak menjadi penopang utama pendapatan negara dengan pertumbuhan 22,1 persen menjadi Rp834,4 triliun. Penerimaan kepabeanan dan cukai tumbuh 0,7 persen menjadi Rp123,8 triliun, sementara Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp226,4 triliun, naik 19,9 persen.
Belanja negara didominasi oleh Belanja Kementerian/Lembaga yang tumbuh 58,9 persen menjadi Rp517,7 triliun, dan belanja Non-KL naik 47 persen menjadi Rp541,6 triliun. Transfer ke Daerah terealisasi Rp306,1 triliun, terkontraksi 4,9 persen secara tahunan.
Menkeu Purbaya menegaskan pemerintah akan menjaga APBN tetap sehat, prudent, adaptif, dan kredibel untuk memperkuat stabilitas serta momentum pertumbuhan dan pembangunan berkelanjutan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan