Media Kampung – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya kenaikan harga beras jenis premium dan medium pada minggu ketiga Mei 2026. Meskipun mengalami peningkatan, kenaikan harga tersebut masih tergolong tipis jika dibandingkan bulan sebelumnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa harga beras medium naik sebesar 0,12 persen dengan rata-rata harga nasional mencapai Rp14.344 per kilogram. Sementara itu, harga beras premium yang merupakan beras kualitas terbaik dan mengandung nutrisi lebih lengkap naik sebesar 0,41 persen menjadi Rp16.149 per kilogram.

Selain itu, BPS mencatat bahwa kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) tertinggi beras terjadi di Papua Barat, dengan harga mencapai Rp17.899 per kilogram dan kenaikan sebesar 2,11 persen. Beberapa daerah lain seperti Sulawesi Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan DKI Jakarta juga mengalami kenaikan IPH beras dengan persentase yang bervariasi antara 0,97 hingga 1,73 persen.

Namun, tidak semua wilayah mengalami kenaikan. Bali dan Papua Barat Daya justru mengalami penurunan IPH beras masing-masing sebesar 1,09 persen dan 0,61 persen. Secara total, terdapat 114 kabupaten dan kota yang mencatat kenaikan IPH beras hingga minggu ketiga Mei 2026, dengan Kabupaten Mahakam Ulu mencatat kenaikan tertinggi sebesar 6,02 persen.

Untuk mengendalikan harga beras terutama di wilayah timur Indonesia seperti Papua, Perum Bulog meningkatkan suplai beras ke daerah-daerah tersebut. Penyaluran difokuskan pada pasar rakyat dan pusat pangan pemerintah daerah sebagai upaya menekan laju kenaikan harga.

Muhammad Wawan Hidayanto, Kadiv Perencanaan Operasi dan Analisa Harga Pasar Bulog, mengungkapkan bahwa distribusi beras dilakukan dengan koordinasi bersama pemerintah daerah dan dinas terkait. Di Papua, penyaluran beras SPHP (Stabilisasi Pangan dan Harga Pangan) sudah mencapai 5.766 ton, dengan bantuan pangan yang telah disalurkan mencapai 8.699 ton.

Beras SPHP merupakan bantuan yang dikelola oleh Badan Pangan Nasional dan didistribusikan oleh Bulog guna mengendalikan harga pangan. Persediaan beras di Papua juga tercatat cukup memadai, yaitu sebanyak 22.229 ton, dengan pengadaan tambahan mencapai 2.736 ton.

Secara nasional, penyaluran beras SPHP meningkat menjadi 5.000 hingga 7.000 ton per hari, naik signifikan dari sebelumnya yang hanya 3.000 hingga 4.000 ton per hari. Distribusi di wilayah Papua dilakukan di beberapa daerah seperti Intan Jaya, Tolikara, Tambrauw, Teluk Bintuni, Pegunungan Bintang, dan Manokwari Selatan.

Di Intan Jaya, Bulog bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Papua Tengah dalam hal subsidi angkutan, menggunakan pesawat dari Nabire untuk mendistribusikan beras. Sedangkan di Tolikara, penyaluran dilakukan bersama TNI dan Polri mengingat akses ke wilayah tersebut cukup sulit dari gudang Bulog.

Dengan langkah-langkah ini, pemerintah melalui Bulog berupaya menjaga stabilitas harga beras, terutama di daerah-daerah yang rawan mengalami kenaikan harga signifikan. Kenaikan harga beras premium dan medium yang tercatat masih dalam batas wajar menjadi indikator pengendalian yang berjalan efektif.

Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa meskipun ada kenaikan harga, pasokan beras di wilayah rawan sudah ditingkatkan secara signifikan untuk menekan inflasi pangan. Ini menjadi bukti komitmen pemerintah dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan beras di seluruh Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.