Media Kampung – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level Rp17.800 pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026. Pelemahan ini tercermin dari tingginya kurs jual dolar di sejumlah bank besar nasional seperti BCA, BRI, Mandiri, dan BNI yang bergerak di kisaran Rp17.775 hingga Rp17.800.

Data e-Rate dan special rate menunjukkan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menetapkan kurs beli dolar AS di Rp17.725 dan jual di Rp17.825. PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) mencatat kurs beli Rp17.598 dan jual Rp17.800, sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mematok kurs beli Rp17.740 dan jual Rp17.770. Di sisi lain, PT Bank Negara Indonesia (BNI) menetapkan kurs beli Rp17.745 dan jual Rp17.800.

Pelemahan rupiah ini didorong oleh sentimen eksternal yang memburuk, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak dunia. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa kondisi ini diperparah oleh momentum libur nasional yang membatasi intervensi Bank Indonesia di pasar domestik. “Pelemahan rupiah kali ini cukup mengkhawatirkan karena bertepatan dengan libur nasional yang membatasi ruang gerak BI,” ujar Ibrahim.

Selain itu, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan oleh Federal Reserve AS juga menambah tekanan pada rupiah. Pernyataan Gubernur The Fed, Christopher Waller, yang mendukung kenaikan suku bunga apabila inflasi bergerak menjauh dari target, menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar. Ketua The Fed, Kevin Warsh, juga dikabarkan berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi hingga akhir 2026 jika inflasi AS tidak terkendali.

Rupiah dibuka melemah pada level Rp17.746 per dolar AS dan sempat menyentuh titik terlemah sepanjang sejarah di kisaran Rp17.783 per dolar AS pada pagi hari perdagangan Selasa. Analis Doo Financial, Lukman Leong, memperkirakan rupiah akan bergerak konsolidatif antara Rp17.700 hingga Rp17.800, dengan investor menunggu respons Iran terhadap proposal damai terbaru dari AS yang masih dinamis dan rawan perubahan arah.

Sentimen negatif domestik juga menjadi faktor pelemahan rupiah. Ibrahim Assuaibi menilai defisit anggaran fiskal Indonesia menjadi momok yang menekan pasar keuangan. Walaupun harga minyak dunia sempat turun, rupiah tetap tertahan dan belum mampu menguat, berbeda dengan mata uang negara tetangga yang justru menguat terhadap dolar AS.

Di tengah kondisi ini, ekonom senior Ferry Latuhihin memberikan peringatan keras soal prospek rupiah ke depan. Ia menilai pemerintah saat ini, khususnya para menteri, belum menangani persoalan pelemahan rupiah secara serius. Ferry menyebut rupiah berpotensi melemah hingga menembus Rp22.000 per dolar AS jika kondisi fiskal yang kedodoran dan kepercayaan investor tidak segera diperbaiki.

Ferry juga menyoroti dampak inflasi tinggi yang dipicu oleh harga minyak dan kenaikan biaya produksi yang akan membebani konsumen, sehingga inflasi di bulan Mei diperkirakan bisa masuk kategori double digit.

Seiring dengan berbagai tekanan tersebut, rupiah diperkirakan masih berada di bawah tekanan dalam waktu dekat, terutama karena ketidakpastian geopolitik global dan kebijakan moneter AS yang agresif. Para pelaku pasar dan investor terus memantau perkembangan terbaru, khususnya respons Iran terhadap upaya perdamaian serta langkah-langkah Bank Indonesia untuk meredam gejolak nilai tukar.

Dengan posisi rupiah yang terus melemah dan potensi risiko yang masih ada, pemerintah dan otoritas terkait diharapkan dapat mengambil langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan nasional guna menghindari dampak yang lebih serius bagi perekonomian Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.