Media Kampung – Yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) mengalami lonjakan signifikan sepanjang Mei 2026, memicu gelombang penjualan besar-besaran oleh investor global dan sejumlah bank sentral dunia yang mulai melepas kepemilikan surat utang AS atau Treasury. Kenaikan imbal hasil ini dipicu oleh kekhawatiran terhadap inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta kondisi fiskal AS yang semakin membebani pasar keuangan global.

Imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun sempat menyentuh level di atas 4,6 persen, sementara yield tenor 30 tahun menembus angka 5 persen, tertinggi dalam hampir dua dekade terakhir. Data inflasi April 2026 yang menunjukkan angka lebih tinggi dari ekspektasi menjadi faktor utama yang membuat pelaku pasar menilai The Fed akan mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan untuk meredam tekanan harga.

Lonjakan yield ini membawa dampak langsung terhadap pasar keuangan global, terutama negara berkembang yang sangat rentan terhadap pergerakan suku bunga dan penguatan dolar AS. Bank Indonesia (BI) mencatat adanya arus modal keluar yang dipicu oleh penguatan indeks dolar AS dan kenaikan yield obligasi AS. BI pun aktif melakukan intervensi dengan membantu penyerapan Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia sebesar Rp140,57 triliun untuk menstabilkan pasar dan menjaga imbal hasil SBN agar tidak melonjak ekstrem.

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menegaskan bahwa kepercayaan investor terhadap instrumen SBN tetap solid meskipun terjadi kenaikan yield. Ia menjelaskan bahwa yield SBN tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 6,5 hingga 6,7 persen, tidak jauh berbeda dengan kondisi sebelum gejolak geopolitik di Timur Tengah. Menurut Juda, hal ini menunjukkan bahwa pasar fiskal Indonesia masih dipercaya oleh investor lokal maupun asing.

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa ketidakpastian global, termasuk perang antara AS dan Iran, menyebabkan tekanan pada pasar obligasi AS dan mendorong bank sentral dunia untuk mengurangi kepemilikan Treasury mereka. Kondisi ini diperparah oleh aksi jual surat utang berbasis hipotek (MBS) oleh investor institusional yang melakukan strategi lindung nilai akibat kenaikan suku bunga yang cepat.

Selain itu, pergantian pimpinan The Fed dengan terpilihnya Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve pada pertengahan Mei 2026 memperkuat sinyal bahwa rezim suku bunga tinggi akan dipertahankan lebih lama. Kebijakan ini mendorong modal global kembali ke AS, memperkuat dolar, dan menimbulkan kekurangan likuiditas dolar di pasar internasional. Akibatnya, pemerintah dan korporasi di negara berkembang menghadapi biaya pembiayaan yang lebih tinggi dan tekanan pada cadangan devisa mereka.

Data dari CME Group menunjukkan lonjakan transaksi kontrak Treasury tenor lima hingga sepuluh tahun, dengan volume mencapai puluhan ribu kontrak, jauh di atas rata-rata. Hal ini mencerminkan tingginya aktivitas hedging dan aksi jual paksa di pasar obligasi yang semakin memperkuat volatilitas pasar global.

Secara keseluruhan, kenaikan yield obligasi AS dan reaksi bank sentral dunia menandai fase baru dalam dinamika pasar keuangan global, di mana negara berkembang seperti Indonesia harus tetap waspada dan mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan domestik di tengah tekanan eksternal yang meningkat.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.