Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Rabu (24/6/2026) setelah MSCI memberikan peringatan keras terkait transparansi free float dan indikasi praktik perdagangan terkoordinasi di pasar modal Indonesia. IHSG ditutup melemah 3,56% ke level 5.883,88, dengan 646 saham memerah dan nilai transaksi mencapai Rp15,05 triliun.
Pelemahan IHSG berlanjut pada Kamis (25/6/2026) pagi, di mana indeks dibuka di level 5.873 dan sempat menyentuh 5.864. Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan secara teknikal IHSG berada dalam tren koreksi wajar pada gelombang (b) setelah membentuk pola long black closing marubozu candle. Indikator Stochastic dan RSI menunjukkan sinyal negatif, memperkuat potensi pelemahan lanjutan.
Tekanan juga datang dari nilai tukar rupiah yang melemah 15 poin atau 0,08% menjadi Rp17.967 per dolar AS pada Kamis pagi. Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menyebut pelemahan rupiah dipicu ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve yang mendorong indeks dolar AS ke level tertinggi dalam 13 bulan. Pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga mencapai 70% pada September 2026.
MSCI dalam Annual Market Classification Review-nya masih mempertahankan Indonesia sebagai emerging market, namun memberikan catatan keras. Jika tidak ada perbaikan signifikan hingga November 2026, MSCI membuka peluang menurunkan status Indonesia menjadi frontier market. Hal ini memicu aksi jual besar-besaran, terutama pada saham-saham yang terafiliasi dengan Grup Bakrie dan Prajogo Pangestu. Saham BUMI turun 12,57%, DEWA turun 11,54%, CUAN turun 10,95%, BRPT turun 9,55%, dan AMMN turun 8,22%.
Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpeluang menguji level 5.750 pada perdagangan Kamis, didukung faktor teknikal yang negatif. Sementara itu, analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memproyeksikan IHSG akan berada di rentang support 5.784–5.594 dan resistance 6.286–6.459. Rekomendasi saham yang dapat dicermati antara lain BREN, INCO, MBMA, BNBR, MYOR, AADI, TLKM, KLBF, BFIN, dan UNVR.
Koreksi harga minyak mentah dunia dinilai bisa menjadi faktor positif bagi IHSG karena mengurangi tekanan pada defisit APBN. Namun, sentimen negatif dari peringatan MSCI, koreksi harga komoditas logam, dan penguatan dolar AS masih membayangi pergerakan indeks. Selain itu, penurunan peringkat daya saing Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking 2026 dari posisi 40 ke 48 turut mempengaruhi iklim investasi.
Pemerintah berencana melakukan evaluasi menyeluruh melalui tim debottlenecking untuk mengidentifikasi hambatan yang memengaruhi daya saing nasional. Langkah ini diharapkan dapat memperbaiki iklim investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan