Media Kampung – Keberadaan ikan asing invasif di perairan Indonesia menjadi perhatian utama karena mengancam keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati. Berdasarkan data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), terdapat sekitar 247 jenis ikan asing di Indonesia, dengan 50 jenis ditemukan di perairan umum, dan sekitar 20 di antaranya berpotensi invasif dengan kemampuan penyebaran yang cepat.
Spesies asing invasif adalah organisme non-asli yang masuk ke lingkungan baru dan berkembang secara pesat, sehingga mengganggu habitat asli. Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Donan Satria menjelaskan bahwa istilah “asing” merujuk pada asal spesies yang bukan habitat aslinya, sedangkan “invasif” menunjukkan kemampuan spesies tersebut untuk mendominasi dan merusak ekosistem baru.
Contoh ikan invasif yang banyak ditemukan di Indonesia antara lain ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys sp.), ikan siklid seperti red devil, ikan cere (Gambusia affinis), ikan nila, ikan arapaima, dan aligator gar. Penelitian dari jurnal Sains Malaysiana pada 2022 mencatat sedikitnya 50 spesies asing tersebar di 72 danau dan 57 sungai di 28 provinsi, dengan 18 spesies termasuk kategori invasif.
Masuknya spesies asing ini sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia, seperti perdagangan ikan hias dan budidaya ikan konsumsi. Donan menuturkan bahwa pelepasan ikan ke perairan umum sering terjadi saat pemilik tidak mampu merawat atau ketika ikan budidaya terbawa banjir dari kolam pemeliharaan. Selain itu, introduksi ikan juga terjadi melalui pelepasan seremonial dan program pengendalian biologis sejak masa kolonial, contohnya ikan cere yang dilepas untuk mengendalikan jentik nyamuk malaria.
Spesies invasif membawa dampak ekologis serius dengan mengubah rantai makanan dan menciptakan persaingan yang merugikan spesies lokal. Ikan sapu-sapu mampu merusak habitat dengan memakan tumbuhan air dan membuat lubang di dasar perairan. Ikan cere juga berpotensi membahayakan fauna lokal dengan menyerang larva salamander api sehingga menghambat pertumbuhan mereka hingga dewasa.
Ikan nila turut berkontribusi pada eutrofikasi perairan, yaitu ledakan pertumbuhan alga akibat peningkatan nitrogen dan fosfor dari ekskresi ikan tersebut. Kondisi ini dapat memicu kematian ikan lain di habitat yang sama. Dosen Fakultas Biologi UGM, Akbar Reza, menyatakan bahwa ikan invasif sulit dikendalikan karena kemampuan adaptasi yang tinggi dan minimnya predator alami di lingkungan baru.
Selain adaptasi, kemampuan reproduksi cepat juga menjadi faktor yang membuat populasi ikan invasif sulit dikendalikan. Luthfi Nurhidayat dari Fakultas Biologi UGM menambahkan bahwa tanpa kompetisi yang ketat, pertumbuhan populasi ikan invasif di perairan umum Indonesia menjadi tidak terkendali.
Masyarakat pun masih banyak yang belum memahami dampak negatif pelepasan ikan invasif ke alam bebas. Aktivitas pelepasan ikan untuk konsumsi atau seremonial masih berlangsung tanpa memperhatikan konsekuensi ekologis jangka panjang.
Dalam menangani masalah ini, pendekatan terintegrasi menjadi kunci, melibatkan regulasi, riset, pengendalian di lapangan, dan edukasi publik. Akbar menekankan perlunya pembaruan daftar Jenis Asing Invasif (JAI) serta koordinasi antara BRIN, perguruan tinggi, Dinas Kelautan dan Perikanan, dan Badan Karantina untuk meningkatkan efektivitas kebijakan.
Pengendalian spesies invasif dapat dilakukan melalui penangkapan intensif, isolasi perairan, pengeringan, dan restorasi spesies lokal berbasis ekologi. Pemanfaatan ekonomi ikan invasif juga menjadi strategi untuk melibatkan masyarakat dalam pengendalian populasi. Saat ini, Indonesia telah memiliki regulasi seperti Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.94 serta Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020 yang mengatur larangan pemasukan dan peredaran ikan invasif.
Meski demikian, regulasi tersebut perlu disesuaikan dengan perubahan ekosistem yang cepat. Luthfi menegaskan bahwa penguatan kebijakan, edukasi, dan kolaborasi lintas sektor sangat penting agar ancaman spesies ikan asing invasif terhadap keanekaragaman hayati dapat dikendalikan dengan lebih efektif di masa depan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.






Tinggalkan Balasan