Media Kampung – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) tengah memperkuat ekosistem jamu nasional agar produk tradisional ini dapat berkembang menjadi komoditas kesehatan dengan nilai ekonomi tinggi dan mampu bersaing di pasar global. Langkah ini diwujudkan melalui audiensi dengan Dewan Jamu Indonesia (DJI) yang membahas strategi pengembangan jamu sebagai produk modern yang diminati dunia.
Dalam pertemuan yang berlangsung di kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menekankan bahwa jamu bukan hanya warisan budaya, tetapi juga produk ekonomi kreatif yang punya potensi pasar internasional besar. Ia menambahkan bahwa pemanfaatan ekosistem digital, riset, dan ilmu pengetahuan menjadi kunci untuk mengubah jamu menjadi produk yang lebih modern dan kompetitif di level global.
Kementerian Ekraf berfokus pada peningkatan aspek branding, perlindungan hak kekayaan intelektual, serta perluasan akses pemasaran melalui platform digital. Selain itu, proses kurasi dan penguatan citra produk diupayakan agar industri jamu semakin siap menghadapi pasar internasional secara berkelanjutan. Menteri Ekraf menyatakan bahwa kreativitas budaya Indonesia sangat luar biasa, namun tantangan terbesar adalah mengkomersialkan dan memonetisasi produk tradisional tersebut tanpa harus terburu-buru dalam kapasitas produksi.
Dewan Jamu Indonesia sendiri merupakan wadah yang menaungi pelaku usaha jamu, peracik tradisional, akademisi, peneliti, komunitas, dan pemangku kepentingan lain yang berkomitmen mengembangkan dan melestarikan jamu sebagai aset budaya sekaligus produk kesehatan khas Indonesia. Pertemuan ini juga membahas persiapan The 2nd Jamu International Conference & Expo (JICE) 2026 yang akan digelar pada Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional.
JICE 2026 dirancang sebagai ajang internasional yang menggabungkan konferensi ilmiah, pameran industri, dan promosi budaya dengan tema “Jamu as a Creative Wellness and Health Industry: Driving Sustainable Well-Being through Cultural Innovation, Green Economy, and Global Partnerships”. Acara puncak akan berlangsung di Royal Ambarrukmo Yogyakarta dan kawasan Candi Borobudur, mengintegrasikan ekosistem pariwisata berbasis warisan budaya dengan industri kreatif jamu.
Selain itu, DJI berencana mengadakan podcast pra-event di Candi Borobudur pada 31 Mei 2026 dengan menghadirkan Menteri Ekraf sebagai narasumber, sebagai bagian dari persiapan menuju JICE 2026. Ketua Umum DJI, Daniel Tjen, menyatakan apresiasi atas dukungan Kementerian Ekraf yang berjalan beriringan dalam upaya mengembangkan, melestarikan, dan menduniakan jamu Indonesia.
Dalam audiensi tersebut, Menteri Ekraf didampingi oleh Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Yuke Sri Rahayu, Direktur Kuliner Romi Astuti, serta Tenaga Ahli Menteri Gemintang K. Mallarangeng, menandai komitmen kuat pemerintah dalam memajukan industri jamu sebagai salah satu sektor ekonomi kreatif yang berpotensi besar di pasar global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan