Media Kampung – Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan hari ini, seiring pasar yang masih bersikap menunggu perkembangan data dan kondisi global. Rupiah bergerak di kisaran Rp17.700 per dolar AS pada pukul 10.30 WIB, menunjukkan tekanan berkelanjutan dari penguatan dolar.

Pergerakan rupiah yang melemah ini melanjutkan tren penurunan pada penutupan perdagangan sebelumnya, di mana rupiah terdepresiasi sebesar 0,08 persen atau turun 13 poin menjadi Rp17.667 per dolar AS. Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah akan cenderung berkonsolidasi terhadap dolar AS hari ini, mengingat pelaku pasar masih mengambil posisi wait and see.

Sentimen pasar masih dipengaruhi oleh antisipasi terhadap data neraca transaksi berjalan triwulan I 2026 yang akan dirilis oleh Bank Indonesia. Selain itu, ketidakpastian politik dan geopolitik, khususnya terkait respon Iran terhadap proposal terbaru dari Amerika Serikat, turut memberi tekanan pada rupiah. Konflik yang masih berlangsung antara AS dan Iran menjadi faktor utama yang membuat rupiah sulit menguat.

Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS hari ini, sementara indeks dolar AS berada di level 99, menguat seiring ekspektasi suku bunga acuan The Fed yang masih akan tinggi dalam waktu yang cukup lama. Hal ini memberikan tekanan tambahan pada mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Jessica Tasijawa, Analis Pasar Uang dari Mirae Asset Sekuritas, menambahkan bahwa kinerja rupiah menjadi salah satu yang paling lemah di kawasan saat ini. Menurutnya, meskipun Bank Indonesia sudah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin dan menerapkan berbagai kebijakan stabilisasi, tekanan eksternal masih sangat kuat akibat penguatan indeks dolar AS yang dipicu oleh kebijakan moneter The Fed yang bersifat ‘higher-for-longer’.

Dolar AS yang menguat dipicu oleh ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk mengatasi ketidakpastian ekonomi global. Kondisi ini membuat rupiah sulit untuk menguat karena investor cenderung memilih aset yang lebih aman di tengah situasi pasar yang belum stabil.

Dengan situasi pasar yang masih menunggu rilis data penting dan perkembangan geopolitik, rupiah diperkirakan akan terus mengalami volatilitas. Pelaku pasar disarankan untuk tetap memperhatikan pergerakan data makroekonomi dan dinamika global yang dapat mempengaruhi nilai tukar ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.