Media Kampung – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) masih mengalami tekanan dengan kurs jual yang berada di kisaran Rp17.700 per dolar pada perdagangan hari Selasa, 19 Mei 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa rupiah belum mampu menguat dan justru diperkirakan akan terus melemah dalam waktu dekat.

Sejumlah bank besar nasional menetapkan kurs jual dolar di angka Rp17.700-an, menandakan bahwa tekanan pada rupiah masih cukup kuat. Analis pasar menyampaikan bahwa target pelemahan rupiah selanjutnya bisa menguji level Rp17.800 per dolar AS. Hal ini dipicu oleh berbagai faktor baik dari dalam negeri maupun kondisi global yang belum kondusif.

Salah satu penyebab utama pelemahan rupiah adalah ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz. Ketegangan ini mendorong kenaikan harga minyak dunia yang kini masih berada di atas 100 dolar AS per barel. Kenaikan harga minyak ini menambah beban subsidi energi dalam negeri yang berpotensi membengkak, sehingga membatasi ruang fiskal pemerintah.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menjelaskan, “Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh faktor domestik menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia dan ruang fiskal yang terbatas akibat subsidi yang meningkat seiring tren kenaikan harga minyak dunia.” Ia menambahkan, kondisi ini diperparah oleh kebutuhan dolar musiman dan menurunnya minat investor asing terhadap obligasi pemerintah Indonesia karena selisih imbal hasil yang semakin menyempit dengan obligasi AS.

Selain itu, ekspektasi inflasi dan yield obligasi pemerintah AS yang terus naik turut memberikan tekanan pada rupiah. Data menunjukkan yield obligasi AS tenor 2 tahun mencapai 4,105 persen, tenor 10 tahun 4,631 persen, dan tenor 30 tahun 5,159 persen, yang merupakan level tertinggi untuk tahun 2026.

Dari sisi pasar global, indeks dolar AS terhadap rupiah juga menunjukkan penguatan. Berdasarkan data Bloomberg per pukul 09.55 WIB, indeks dolar AS berada di posisi Rp17.718, naik 0,28 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Kondisi ini menandakan keperkasaan dolar AS yang turut menekan nilai tukar rupiah di pasar domestik.

Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Rijadh Djatu Winardi, menyebut pelemahan rupiah saat ini merupakan hasil akumulasi tekanan dari faktor global dan domestik yang terjadi bersamaan. Ia menyebut fenomena ini sebagai “perfect storm” yang membuat rupiah sulit menguat dalam waktu dekat.

Di tengah pelemahan rupiah, harga emas Antam justru tetap stabil di angka Rp2.764.000 per gram pada perdagangan Selasa pagi. Harga ini tidak mengalami perubahan dari hari sebelumnya dan menjadi alternatif investasi saat ketidakpastian ekonomi global masih tinggi. Namun, pembelian emas batangan tetap dikenai pajak PPh 22 sesuai aturan yang berlaku.

Sementara itu, Bank Indonesia mencatat kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga melemah ke level Rp17.719 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.666. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pergerakan rupiah masih berada di zona negatif akibat kombinasi faktor eksternal dan domestik yang membebani.

Rupiah yang masih melemah jauh di atas asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp16.500 per dolar, menambah tantangan bagi perekonomian dalam mengelola stabilitas nilai tukar. Pemerintah dan otoritas terkait masih harus berhati-hati dalam mengambil kebijakan guna mengantisipasi dinamika pasar yang belum pasti.

Dengan situasi terkini, pelaku pasar disarankan untuk terus memantau perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter yang akan diumumkan Bank Indonesia dalam waktu dekat. Keputusan terkait suku bunga acuan diperkirakan akan menjadi faktor penting dalam mengarahkan pergerakan nilai tukar rupiah ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.