Media KampungNilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini kembali melemah dan ditutup di level Rp17.706 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini tercatat sebesar 0,22 persen atau turun 38 poin dari posisi sebelumnya, berdasarkan data Bloomberg.

Sentimen negatif dari perkembangan konflik antara AS dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi kondisi pasar keuangan, termasuk rupiah. Meskipun Presiden AS, Donald Trump, menyampaikan penundaan serangan lanjutan terhadap Iran dengan harapan membuka peluang negosiasi, ketidakpastian masih menyelimuti pasar.

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa Trump melihat peluang yang cukup besar untuk mencapai kesepakatan dengan Iran guna mencegah negara tersebut memperoleh senjata nuklir. Namun, kondisi geopolitik yang masih tegang membuat investor tetap waspada.

Di sisi lain, Pemerintah Iran melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, telah menyampaikan posisi resmi Iran lewat perantara Pakistan. Pejabat Pakistan yang meminta identitasnya dirahasiakan menyatakan bahwa sikap Iran sudah diteruskan ke AS, namun belum ada perkembangan signifikan dari pihak AS.

Selain itu, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, memperpanjang pengecualian sanksi selama 30 hari bagi negara-negara yang rentan terhadap energi agar tetap dapat membeli minyak Rusia. Kebijakan ini juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika pasar global.

Dalam konteks domestik, Ibrahim Assuaibi mengingatkan bahwa pelemahan rupiah berpotensi memberikan tekanan pada ketahanan pangan Indonesia. Negara ini masih sangat bergantung pada impor bahan pangan seperti gandum, kedelai, bawang putih, gula, hingga daging sapi dan kerbau.

Indonesia mengimpor sekitar 90 persen kebutuhan gandum dan kedelai, 95 persen bawang putih, 60 persen gula, serta 54 persen daging sapi dan kerbau. Pelemahan nilai tukar rupiah akan menaikkan biaya impor, yang berisiko meningkatkan harga pangan di pasar domestik.

Fenomena ini dikenal dengan istilah inflasi impor, yaitu tekanan inflasi yang muncul akibat pelemahan mata uang nasional dan tingginya ketergantungan pada barang impor. Dampak kenaikan harga bahan baku akan berbeda-beda, namun untuk komoditas seperti gandum dan kedelai, efeknya bisa dirasakan hanya dalam beberapa minggu karena langsung menyentuh industri pengolahan.

Kondisi ini menuntut kehati-hatian dari pemerintah dan pelaku pasar dalam mengantisipasi dampak pelemahan rupiah terhadap ekonomi dan kebutuhan pokok masyarakat. Perkembangan terbaru juga mencatat rencana pelantikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve AS, menggantikan Jerome Powell, yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter dan pasar global ke depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.