Media Kampung – Kecelakaan tragis yang menewaskan 15 orang di Kentucky akibat lepasnya mesin pesawat kargo UPS MD-11 mengungkap adanya cacat komponen yang sebenarnya sudah ditemukan sebelumnya pada beberapa pesawat serupa, namun tidak dilaporkan ke otoritas penerbangan. Investigasi dari National Transportation Safety Board (NTSB) menunjukkan adanya kegagalan dalam sistem pelaporan dan pengawasan yang berpotensi menghindari bencana tersebut.

Insiden terjadi saat pesawat sedang lepas landas di Bandara Internasional Muhammad Ali di Louisville, ketika mesin sebelah kiri pesawat terlepas dan menimbulkan ledakan besar. Tiga pilot di dalam pesawat meninggal dunia, sementara 12 orang di darat juga menjadi korban. Selain itu, 23 lainnya mengalami luka-luka.

Penyelidikan NTSB menemukan retakan pada bagian mount mesin yang tidak teridentifikasi dalam pemeriksaan rutin. Catatan menunjukkan masalah serupa ditemukan pada 10 pesawat lain, namun sebagian besar tidak pernah dilaporkan ke Federal Aviation Administration (FAA). Hal ini menimbulkan pertanyaan serius terkait efektivitas pengawasan dan komunikasi dalam industri penerbangan.

David Springer dari UPS menyatakan bahwa surat layanan dari Boeing terkait masalah bearing bola pada mesin tidak menjelaskan risiko kerusakan lebih luas yang dapat terjadi pada bagian yang menahan mesin ke sayap pesawat. “Jika informasi itu diketahui di UPS, kami pasti akan mengajukan banyak pertanyaan berbeda selama bertahun-tahun,” ujarnya.

Pengacara yang mewakili keluarga korban, Bradley Cosgrove, menilai tragedi ini merupakan kegagalan sistemik dalam mengenali dan menangani risiko yang sudah ada jauh sebelum kecelakaan terjadi. Sementara itu, sidang yang digelar di markas besar NTSB Washington DC melibatkan berbagai pihak termasuk Boeing, UPS, serikat mekanik, dan penyidik untuk menggali penyebab mendalam kecelakaan ini.

Dokumen yang dipublikasikan selama sidang juga mengungkap bahwa UPS sempat mengganti pesawat yang akan digunakan dalam penerbangan tersebut setelah ditemukan kebocoran bahan bakar pada pesawat pertama. Pengalihan kargo ke pesawat kedua tidak mengubah nasib tragis saat pesawat tersebut hanya berhasil melewati pagar bandara sebelum akhirnya kecelakaan.

Selain itu, pemeriksaan detail terhadap bagian kunci pada mesin terakhir kali dilakukan pada Oktober 2021, dan inspeksi lanjutan baru dijadwalkan setelah pesawat melakukan sekitar 7.000 kali lepas landas dan pendaratan. Jadwal ini dinilai kurang memadai untuk mendeteksi kerusakan yang berkembang secara perlahan.

NTSB akan terus menganalisis semua faktor yang berkontribusi hingga laporan final dapat dirilis, yang diperkirakan memakan waktu lebih dari satu tahun setelah kecelakaan. Kasus ini menjadi peringatan penting bagi industri penerbangan untuk memperbaiki sistem pelaporan dan inspeksi demi mencegah tragedi serupa di masa depan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.