Media Kampung – 12 April 2026 | Harga bahan bakar minyak (BBM) di pasar global melonjak tajam pada akhir April 2024, memaksa maskapai internasional Cathay Pacific Airways menyesuaikan jadwal operasionalnya dengan mengurangi sejumlah penerbangan mulai bulan Mei.

Kenaikan harga jet fuel mencapai lebih dari 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menambah beban biaya operasional yang sudah tinggi bagi maskapai berbasis Hong Kong tersebut.

Cathay Pacific mengumumkan akan menurunkan frekuensi penerbangan pada rute-rute utama seperti Hong Kong‑Singapura, Hong Kong‑Tokyo, dan Hong Kong‑Sydney, dengan pemotongan hingga 20 persen pada beberapa jadwal harian.

Pengurangan jadwal ini berdampak pada total kapasitas penumpang yang turun sekitar 150.000 kursi per bulan, menurut pernyataan resmi maskapai yang dirilis pada 10 April 2024.

Manajer Keuangan Cathay Pacific, Ms. Emily Cheng, menyatakan, “Kami terus memantau dinamika harga bahan bakar dan akan mengambil langkah strategis untuk melindungi profitabilitas serta menjaga kestabilan layanan bagi pelanggan kami.”

Langkah serupa juga diambil oleh beberapa maskapai lain di Asia, termasuk Singapore Airlines dan Japan Airlines, yang masing-masing menyesuaikan jadwal penerbangan sebagai respons terhadap tekanan biaya energi.

Pemerintah Hong Kong belum mengumumkan kebijakan subsidi atau insentif khusus untuk industri penerbangan, meski ada desakan dari asosiasi maskapai untuk menahan dampak inflasi pada tarif penumpang.

Para analis pasar menilai bahwa penurunan frekuensi penerbangan dapat memicu kenaikan tarif tiket, terutama pada rute internasional populer, yang pada gilirannya berpotensi menurunkan volume permintaan perjalanan bisnis dan pariwisata.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi konsumen di Indonesia naik menjadi 5,2 persen pada kuartal pertama 2024, sebagian besar dipengaruhi oleh kenaikan harga energi dan transportasi.

Sejumlah pelaku industri pariwisata di Asia Tenggara memperkirakan penurunan kunjungan wisatawan internasional sebesar 3-5 persen pada kuartal kedua, jika tren harga bahan bakar terus berlanjut.

Dalam upaya mitigasi, Cathay Pacific berencana meningkatkan efisiensi armada dengan mempercepat program modernisasi pesawat, termasuk penambahan model Airbus A321neo yang lebih irit bahan bakar.

Maskapai juga berkomitmen meningkatkan penawaran layanan digital, seperti check‑in otomatis dan penyesuaian bagasi, untuk mengurangi biaya operasional di titik layanan darat.

Pengamatan terkini menunjukkan bahwa harga jet fuel mulai stabil pada akhir Mei, namun tingkat volatilitas tetap tinggi, menuntut maskapai untuk terus menyesuaikan strategi operasionalnya.

Dengan langkah pengurangan penerbangan ini, Cathay Pacific berharap dapat menyeimbangkan beban biaya dan menjaga kelangsungan layanan pada periode krisis energi yang belum berakhir.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.