Media Kampung, Penantian panjang warga Desa Tanjung Nanga, Kecamatan Malinau Selatan Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, akhirnya berakhir. Sebanyak 331 pelanggan kini menikmati aliran listrik PLN setelah bertahun-tahun hidup tanpa penerangan.
Dibalik hadirnya listrik, tersimpan perjuangan panjang para insan PLN yang harus menempuh perjalanan hingga 10 jam, melewati jalan berlumpur, membawa material pembangunan, hingga bekerja jauh dari keluarga demi mewujudkan pemerataan energi. Salah satu kisah datang dari Fendy Yulio Prasetyo, pegawai PLN Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan (UP2K) Benua Etam. Bersama timnya, ia berulang kali menempuh perjalanan dari Berau menuju Tanjung Nanga dengan kondisi medan yang tidak mudah. Saat musim hujan, jalan tanah berubah menjadi lumpur yang membuat kendaraan pengangkut material kerap tersendat. Bahkan, beberapa kali distribusi material harus tertunda karena kendaraan tidak mampu melintasi jalur yang licin.
“Kadang kendaraan harus berjalan sangat pelan karena kondisi jalan yang licin. Pernah juga material tertahan karena kendaraan tidak bisa langsung melintas. Tetapi kami tetap berupaya agar pekerjaan terus berjalan karena masyarakat sudah lama menantikan listrik hadir di desa ini,” ujar Fendy.
Meski harus bekerja dengan keterbatasan fasilitas dan minimnya akses komunikasi, semangat warga menjadi penyemangat tersendiri bagi seluruh tim. “Setiap kali bertemu warga, kami semakin memahami betapa besar harapan mereka terhadap listrik PLN. Itu yang membuat kami dan teman-teman terus bersemangat menyelesaikan pekerjaan,” katanya.
Kehadiran listrik di Tanjung Nanga membuka harapan baru bagi masyarakat pedalaman. Sebelumnya, warga hanya mengandalkan lampu minyak atau genset terbatas. Kini, aktivitas ekonomi dan pendidikan di desa tersebut dapat berjalan lebih baik.
Perjuangan PLN di Tanjung Nanga menjadi contoh nyata upaya pemerataan energi di Indonesia, meskipun masih banyak daerah lain yang menanti hal serupa.




















Tinggalkan Balasan