Media Kampung – Ketika mata melintas di sisi barat eks Bioskop Permata Yogyakarta, sebuah karya seni raksasa menghentak pandangan: “Aku Cuma Mau Maen”, Karya Stencil Terbesar Digie Sigit Mejeng di Baliho Yogya. Karya berukuran 8 x 4 meter ini menampilkan figur anak bertelanjang kaki memegang bola kuning, diiringi kalimat merah menyala “aku cuma mau maen.” serta pertanyaan kecil “(kenapa kamu bully aku)”. Instalasi ini menjadi sorotan utama pameran tunggal bertajuk Sayangi Teman, sekaligus debut Digie Sigit menggunakan baliho sebagai kanvas publik.

Latar Belakang dan Proses Penciptaan

Digie, seniman street art kelahiran Yogyakarta, mengungkapkan bahwa figur anak dalam karya ini awalnya difoto di kawasan Museum Perjuangan Brontokusuman, area yang sering menjadi tempat bermain anak-anak setempat. Foto tersebut kemudian diolah melalui teknik stencil, menambahkan lapisan hitam-putih yang kontras sehingga bola kuning tampak menonjol. Menurut seniman, bola melambangkan dunia anak, sementara kaki telanjang dan ketiadaan warna hijau menandakan hilangnya ruang hijau untuk bermain di tengah kota.

Makna Simbolik dan Pesan Sosial

Kalimat “aku cuma mau maen” dipilih karena mencerminkan suara korban bullying yang hanya menginginkan kebebasan bermain, namun justru dihadapkan pada kekerasan. “Anak‑anak itu aset bersama, aset bangsa ini. Kita harus pastikan mereka tidak lagi mengalami bullying atau kehilangan ruang tumbuh kembang,” ujar Digie saat diwawancarai. Karya ini menyoroti dua isu utama: menyusutnya ruang bermain anak di perkotaan dan maraknya kekerasan terhadap mereka.

Elemen Visual Utama

  • Figur Anak Telanjang Kaki: Simbolisasi kerapuhan dan kejujuran masa kanak‑kanak.
  • Bolanya Kuning: Dunia anak, harapan, dan energi yang harus dilindungi.
  • Warna Hitam‑Putih Dominan: Menegaskan kontras antara harapan dan realitas keras.

Reaksi Publik dan Dampak di Ruang Kota

Lokasi pemilihan baliho di sisi barat eks Bioskop Permata dipilih karena memungkinkan kendaraan melambat, memberi kesempatan bagi pejalan kaki dan pengendara untuk menatap karya lebih lama. Warga Yogyakarta melontarkan pujian lewat media sosial, menilai karya ini berhasil mengangkat isu sosial ke ruang publik yang biasanya dipenuhi iklan komersial. Beberapa komentar menyoroti betapa pentingnya mengembalikan ruang hijau dan area bermain yang aman bagi anak‑anak.

Harapan dan Langkah Kedepan

Digie menegaskan bahwa penggunaan baliho sebagai media seni publik hanyalah langkah awal. “Jika lebih banyak seniman membagikan karya di ruang publik, kota kita akan menjadi lebih manusiawi,” katanya. Pameran Sayangi Teman dijadwalkan berlangsung selama satu bulan, menyesuaikan masa penggunaan baliho, memberi kesempatan warga untuk merenungkan pesan yang terkandung dalam “Aku Cuma Mau Maen”, Karya Stencil Terbesar Digie Sigit Mejeng di Baliho Yogya.

Dengan menempatkan karya seni di tengah arus kota, Digie berharap dapat memicu dialog tentang perlindungan anak, pentingnya ruang bermain, serta tanggung jawab kolektif masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman dan inklusif.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.