Media Kampung – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir Mei 2026 mengalami tekanan signifikan menjelang libur Hari Raya Iduladha 1447 H, namun saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) berhasil menunjukkan kebangkitan meskipun sempat tertekan tajam sebelumnya.
Pergerakan IHSG pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, ditutup turun 1,59% ke level 6.130,10, setelah bergerak fluktuatif sepanjang hari. Tekanan terbesar berasal dari saham-saham perbankan besar seperti BBRI, BMRI, dan BBCA yang melemah cukup dalam. Nilai transaksi pasar mencapai Rp18,09 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 24,88 miliar saham.
Meski demikian, saham-saham Grup Barito milik konglomerat Prajogo Pangestu justru mengalami rebound. TPIA menjadi salah satu saham yang bangkit dengan kenaikan 7,65% ke harga Rp1.900, setelah sebelumnya merosot 11,75% dalam sepekan. Saham milik Grup Barito lain seperti BREN, BRPT, dan PTRO juga menunjukkan penguatan signifikan pada hari yang sama.
Sebelumnya, sepanjang minggu 18-22 Mei 2026, saham TPIA tercatat sebagai salah satu penekan utama IHSG dengan penurunan sebesar 53,49%, memberikan beban cukup besar sebesar 47,55 poin pada indeks komposit. Hal ini terjadi bersamaan dengan pelemahan saham lain dari emiten besar seperti DSSA dan BREN yang juga mengalami koreksi dalam minggu yang sama.
Dari sisi dividen, TPIA juga menarik perhatian investor dengan pengumuman pembagian dividen tunai sebesar Rp6,07341 per saham, memberikan dividend yield sekitar 0,3% pada tanggal cum date dividen yang berlangsung pada 25 Mei 2026. Hal ini menjadi salah satu faktor yang mendukung sentimen positif terhadap saham TPIA di tengah pasar yang bergejolak.
Analis dari Samuel Sekuritas memproyeksikan IHSG akan bergerak sideways dengan tekanan aksi jual asing yang masih dominan. Sementara itu, rekomendasi saham seperti TINS dan beberapa emiten lainnya juga diberikan untuk strategi buy on weakness oleh BNI Sekuritas, walaupun fokus utama tetap pada saham-saham big caps yang menjadi penentu arah pasar termasuk TPIA.
Dengan latar belakang tersebut, saham TPIA menunjukkan resilien dalam menghadapi gejolak pasar menjelang libur panjang Iduladha. Kebangkitan TPIA dan saham Grup Barito menjadi sorotan utama di tengah kondisi IHSG yang tengah mengalami tekanan dan aksi jual yang masif.
Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa meskipun IHSG ditutup melemah signifikan, saham TPIA mampu pulih dan memberikan harapan bagi investor yang mengincar peluang di pasar modal Indonesia menjelang akhir Mei 2026.
Secara keseluruhan, dinamika IHSG dan pergerakan saham TPIA menjadi cerminan sentimen pasar yang kompleks di tengah perayaan Iduladha dan ketidakpastian global, menuntut investor untuk tetap waspada dan selektif dalam memilih saham unggulan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan