Media Kampung – Prospek saham CPO mulai menarik perhatian seiring harga acuan komoditas yang merangkak naik. Harga CPO di bursa Malaysia baru-baru ini menembus MYR 4.650 per ton, posisi tertinggi dalam dua minggu, dan sejak awal tahun telah meningkat sekitar 14 persen. Kenaikan ini didorong oleh permintaan yang semakin kuat, sementara pasokan berpotensi terbatas ke depan. Setidaknya ada empat faktor utama yang mendorong harga CPO saat ini.

Faktor Pendorong Harga CPO

1. Implementasi B50 pada 2026

Salah satu katalis utama adalah rencana implementasi mandatory B50 yang dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Program B50 merupakan campuran 50 persen biodiesel berbasis sawit (FAME) dan 50 persen solar, meningkat dari B40 sebelumnya. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memastikan pasokan bahan baku siap mendukung program tersebut.

2. Permintaan Ekspor Global Menguat

Data Intertek Testing Services mencatat pengiriman produk sawit Malaysia selama periode 1–20 Juni meningkat 19,1 persen dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. India, importir sawit terbesar dunia, menjadi motor utama kenaikan permintaan dengan impor diperkirakan mencapai 600 ribu ton pada Juni, naik dari 549 ribu ton pada Mei.

3. Harga Minyak Nabati Pesaing Ikut Naik

Kenaikan harga minyak kedelai dan minyak nabati alternatif mendorong konsumen global beralih ke minyak sawit yang lebih kompetitif. Hal ini menjadi sentimen positif bagi pasar CPO.

4. Kekhawatiran Pasokan Akibat El Nino

Hasil pemantauan hingga akhir Mei menunjukkan anomali suhu muka laut di Samudera Pasifik telah melewati batas netral, mengonfirmasi El Nino akan aktif kembali. Proyeksi BMKG menunjukkan peluang 98 persen masuk kategori moderat, dan 62 persen bisa menjadi kuat, berpotensi bertahan hingga awal 2027. Kombinasi El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) Positif membuat musim kemarau diprediksi lebih kering, berisiko menekan produktivitas perkebunan sawit di Asia Tenggara.

Prospek Emiten CPO di Indonesia

Di lantai bursa, kenaikan harga CPO menjadi sentimen positif bagi emiten perkebunan. Namun, dampaknya tidak selalu sama. Besarnya manfaat tergantung pada kemampuan masing-masing emiten mengoptimalkan penjualan di tengah harga jual yang lebih tinggi. Berdasarkan analisis data 11 emiten CPO di BEI, tiga nama layak mendapat perhatian lebih: LSIP, DSNG, dan TBLA.

LSIP: Neraca Kuat dan Valuasi Murah

LSIP memiliki PBV sekitar 0,64 kali, di bawah rata-rata historisnya. Perusahaan ini sangat sensitif terhadap pergerakan harga CPO. Pada era B20 (2018-2019) kinerja sempat tertekan karena harga CPO global lemah, namun saat B30 (2020-2022) laba bersih melonjak hingga Rp1,03 triliun pada 2022. Puncaknya terjadi pada implementasi B40 di 2025, dengan pendapatan Rp5,51 triliun dan laba bersih Rp1,89 triliun. LSIP menjadi salah satu emiten yang paling diuntungkan saat harga CPO bullish, dengan neraca bersih dan posisi kas kuat.

DSNG: Growth Story di Sektor Sawit

DSNG menawarkan kombinasi pertumbuhan volume dan harga. Pada era B20 laba bersih sempat turun karena fase ekspansi besar-besaran, namun hasilnya mulai terlihat pada B30 dengan laba melonjak dari Rp478 miliar menjadi Rp1,21 triliun pada 2022. Pada 2025, DSNG mencatat pendapatan Rp12,32 triliun dan laba bersih Rp1,83 triliun, dengan pertumbuhan pendapatan tahunan sekitar 22 persen. Valuasi masih di sekitar PBV 1 kali dengan fundamental yang sehat. Jika B50 meningkatkan permintaan domestik, DSNG berpotensi menjadi penerima manfaat terbesar karena ruang pertumbuhan volume yang lebih baik.

TBLA: Valuasi Paling Murah

TBLA memiliki model bisnis terintegrasi dari perkebunan hingga refinery dan produk hilir, membuat kinerja lebih stabil saat harga fluktuatif. Pada era B20 pendapatan hanya turun tipis, sementara laba bersih bertahan di Rp661 miliar. Saat B30, pendapatan melonjak dari Rp10,86 triliun menjadi Rp16,58 triliun dalam tiga tahun. Pada era B40, pendapatan diperkirakan mencapai Rp22 triliun dengan laba bersih mendekati Rp900 miliar. Yang membuat TBLA menarik adalah PBV sekitar 0,41 kali, menjadikannya salah satu saham sawit termurah di bursa. Namun, investor perlu memperhatikan tingkat utang yang relatif lebih tinggi.

Ketiga emiten ini menawarkan karakteristik berbeda yang dapat memberikan gambaran bagaimana industri sawit merespons setiap kenaikan level mandatory biodiesel. LSIP unggul dari sisi neraca dan sensitivitas harga, DSNG dari pertumbuhan volume, dan TBLA dari valuasi murah. Investor dapat memilih sesuai profil risiko dan tujuan investasi.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.