Media Kampung – PT Proline (PRDL) akan melantai di bursa sebagai perusahaan IPO ketiga pada tahun ini. Sebagai sister company dari PT Prodia Widyahusada (PRDA), PRDL menawarkan sejumlah peluang sekaligus risiko yang perlu dipahami investor sebelum membeli sahamnya. Berikut lima fakta kunci yang wajib diketahui.

1. Status Entitas Asosiasi PRDA

PRDL merupakan entitas asosiasi dari PRDA karena PRDA hanya memegang 39% saham PRDL. Sementara itu, 51% saham PRDL dimiliki oleh PT Prodia Utama, yang juga merupakan pengendali PRDA. Artinya, meski terafiliasi, PRDL bukan anak perusahaan penuh PRDA, melainkan perusahaan terpisah dengan struktur kepemilikan yang unik.

2. Harga IPO dan Dana Segar

PRDL menawarkan harga IPO sekitar Rp100–Rp120 per saham untuk 522 juta lembar saham (30% dari total saham). Dengan demikian, perseroan berpotensi mengantongi dana segar maksimal Rp62 miliar. Penjamin emisi dalam IPO ini adalah Sucor Sekuritas, yang juga membawa IPO JELI sebelumnya. Selain itu, PRDL menyediakan program alokasi saham untuk karyawan (ESA) sebanyak 36,6 juta lembar atau 7% dari saham yang ditawarkan.

3. Penggunaan Dana IPO: Utang dan Ekspansi

Dana IPO sebesar Rp62 miliar akan digunakan untuk tiga keperluan utama: Rp35,6 miliar untuk melunasi fasilitas pokok ke BBCA dan PNBN, Rp17,9 miliar untuk belanja modal (pembelian peralatan kalibrasi, kendaraan, perangkat lunak, relayout area produksi, dan penambahan AHU Lab Biomolekuler), serta Rp5,21 miliar untuk modal kerja (pembelian bahan baku, pengembangan produk, dan pemasaran).

4. Kemitraan Strategis dengan Diasys Jerman

PRDL memiliki pemegang saham strategis, yaitu Diasys Diagnostic System GmbH asal Jerman, yang memegang 10% saham sebelum IPO. Keduanya telah menandatangani perjanjian kerja sama jangka panjang yang diperpanjang pada April 2026 hingga 17 April 2033. Kerja sama ini mencakup lisensi produksi reagen di bawah pengawasan DiaSys dan penggunaan merek DiaSys atau Proline dengan bahan baku dari Diasys.

5. Kinerja Keuangan dan Risiko

Kinerja PRDL sempat anjlok pada 2024 akibat distributor terbesarnya, PT Rajawali Nusindo, mengalami PKPU. Pendapatan PRDL turun 47% menjadi Rp58 miliar dan laba bersih turun 72% menjadi Rp9,99 miliar. Namun, pada 2025 kinerja membaik berkat low base effect, dengan pendapatan naik 26,79% menjadi Rp74,37 miliar dan laba bersih naik 69% menjadi Rp16,9 miliar. Meski demikian, ketergantungan terhadap proyek pemerintah mencapai 66,2% dari total pendapatan, sehingga efisiensi anggaran pemerintah di sektor kesehatan berpotensi menekan kinerja ke depan.

Sebelum memutuskan membeli saham IPO PRDL, investor perlu mencermati risiko konsentrasi distributor, ketergantungan pada proyek pemerintah, serta volatilitas kinerja akibat faktor eksternal seperti PKPU distributor.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.