Media Kampung, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) berpotensi mendorong nilai ekonomi Indonesia hingga mencapai USD 2 triliun. Pernyataan itu disampaikan Airlangga setelah Indonesia resmi menjadi salah satu negara pendiri (founding member) World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO), sebuah organisasi kerja sama AI internasional yang diinisiasi China bersama 28 negara lainnya.

Menurut Airlangga, keikutsertaan Indonesia dalam WAICO merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia berperan aktif dalam membangun tata kelola AI yang inklusif, aman, beretika, dan tidak dimonopoli oleh kekuatan tertentu.

Baca juga:

“Jadi kalau kita ketahui bahwa AI ini mempunyai potensi untuk menyumbang pendapatan bagi Indonesia, business as usual di tahun 2030 sampai 400 miliar dolar, tetapi dengan diimplementasikannya digital economy framework, nah ini akan meningkat menjadi 2 triliun,” ucap Airlangga saat konferensi pers secara daring, Jumat malam (17/7).

Menurut dia, salah satu implementasi transformasi digital RI telah terlihat lewat sistem pembayaran QRIS yang kini bisa digunakan di sejumlah negara ASEAN hingga Korea Selatan dan Jepang. Airlangga mengatakan, status Indonesia sebagai negara pendiri WAICO memberikan keuntungan strategis karena pemerintah dapat terlibat sejak awal dalam pembahasan arah pengembangan AI dunia.

Baca juga:

“Karena dengan menjadi founder, kita tentu mempunyai akses pertama terhadap seluruh pembicaraan mengenai perkembangan daripada AI itu sendiri,” jelasnya.

Lebih lanjut, Airlangga membantah anggapan bahwa keikutsertaan RI di WAICO menunjukkan keberpihakan kepada China dalam persaingan teknologi global. Menurutnya, Indonesia tetap menjalankan strategi kerja sama yang bersifat multisource.

Baca juga: