Media KampungHarga minyak mentah dunia anjlok ke level terendah sejak Maret 2026 pada awal pekan ini setelah Amerika Serikat dan Iran memberikan sinyal kesepakatan damai yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz. Penurunan tajam ini turut menyeret harga batu bara dan crude palm oil (CPO) ke zona merah, meskipun nikel dan timah masih mencatat kenaikan.

Berdasarkan data Reuters, harga minyak mentah Brent turun 4,10 persen menjadi USD 83,75 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot 4,72 persen ke USD 80,87 per barel. Kedua kontrak tersebut sebelumnya sudah anjlok lebih dari 3 persen pada perdagangan Jumat lalu. Penurunan ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran yang mengaku telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang dan membuka kembali lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Perdana Menteri Pakistan, yang berperan sebagai mediator, mengungkapkan bahwa AS dan Iran akan menandatangani nota kesepahaman di Swiss pada Jumat mendatang. Trump pada Minggu menyatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka tanpa pungutan biaya dan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran akan diakhiri. Sementara itu, kantor berita semi-resmi Iran, Mehr News Agency, melaporkan bahwa rancangan kesepakatan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari dengan pengaturan yang dilakukan oleh Iran.

Harga batu bara ikut tertekan, turun 1,88 persen menjadi USD 148,90 per ton pada penutupan perdagangan Jumat lalu. Harga CPO juga terkoreksi 1,67 persen ke MYR 4.475 per ton. Di sisi lain, harga nikel di London Metal Exchange (LME) naik 0,77 persen menjadi USD 17.830 per ton, sementara timah melonjak 1,71 persen ke USD 53.752 per ton.

Pasar komoditas kini mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran yang diperkirakan akan berdampak signifikan terhadap pasokan energi global. Jika kesepakatan terwujud, pembukaan kembali Selat Hormuz dapat meningkatkan pasokan minyak dan menekan harga lebih lanjut.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.