Media Kampung – Tekan beban keuangan, VinFast lepas bisnis pabrik di Vietnam sebagai langkah strategis untuk mengurangi tekanan finansial yang selama ini membebani perusahaan. VinFast, produsen kendaraan listrik asal Vietnam yang berdiri sejak 2017, telah mengalami kerugian besar mencapai USD 3,9 miliar pada tahun lalu akibat tingginya biaya produksi dan ekspansi agresif yang belum membuahkan laba.
Dalam upaya menekan beban keuangan, VinFast mengumumkan rencana penjualan dua pabrik utama di Vietnam dengan nilai transaksi sekitar 13,3 triliun dong atau setara USD 506 juta. Transaksi ini juga melibatkan pengalihan utang senilai sekitar USD 6,9 miliar kepada pihak pembeli, sehingga perusahaan hampir terbebas dari beban utang yang selama ini membebani neraca keuangannya. Strategi ini merupakan bagian dari transformasi VinFast menjadi model bisnis “asset-light”, yang lebih fokus pada riset dan pengembangan produk daripada aktivitas manufaktur.
Selain melepas bisnis pabrik, VinFast juga melakukan penambahan modal dasar sebesar 10 triliun dong Vietnam atau sekitar Rp6,7 triliun pada April 2026. Dengan penambahan modal ini, total modal dasar VinFast meningkat menjadi 90,79 triliun dong (sekitar Rp60,83 triliun), menjadikan VinFast sebagai entitas dengan modal dasar terbesar dalam ekosistem Vingroup. Penambahan modal ini dilakukan melalui penerbitan saham preferen dividen dan seluruhnya berasal dari investor domestik.
Restrukturisasi ini diharapkan dapat mengurangi beban biaya keuangan dan depresiasi yang selama ini menjadi faktor utama tekanan pada kinerja keuangan VinFast. Setelah proses pengalihan segmen produksi domestik selesai, VinFast Vietnam diproyeksikan tidak lagi memiliki utang signifikan dalam neracanya.
Namun, langkah Tekan beban keuangan, VinFast lepas bisnis pabrik di Vietnam ini juga menimbulkan sorotan terhadap tata kelola di induk usahanya, Vingroup, yang dimiliki oleh miliarder Pham Nhat Vuong. Struktur transaksi bisnis manufaktur yang kompleks dan keterlibatan pihak-pihak tertentu, seperti pengusaha properti Nguyen Hoai Nam yang mengambil alih perusahaan Future Investment and Trading Development (FIRD) sebagai pemilik utama bisnis manufaktur dengan porsi 95,5 persen, memunculkan pertanyaan terkait transparansi dan tata kelola perusahaan.
Di sisi lain, VinFast juga menghadapi tantangan internasional berupa gugatan dari pemerintah negara bagian North Carolina, Amerika Serikat. Gugatan ini terkait dengan kegagalan VinFast memenuhi komitmen pembangunan pabrik kendaraan listrik yang direncanakan sejak empat tahun lalu. Proyek tersebut semula merupakan investasi besar senilai USD 2 miliar dengan janji menciptakan 1.750 lapangan kerja. Namun, penundaan produksi hingga 2028 dan skala produksi yang diperkecil membuat pemerintah North Carolina menuntut pengambilalihan lahan proyek agar dialihkan kepada pihak lain yang dapat memenuhi target penciptaan lapangan kerja.
Keseluruhan langkah ini mencerminkan upaya VinFast untuk beradaptasi dan memperkuat posisinya di pasar kendaraan listrik yang sangat kompetitif. Dengan menekan beban keuangan, VinFast lepas bisnis pabrik di Vietnam untuk fokus pada inovasi dan pengembangan produk, sekaligus memperkuat struktur permodalan dalam rangka mendukung ekspansi yang lebih sehat secara finansial.
VinFast kini berada pada fase penting dalam perjalanan bisnisnya, di mana efisiensi operasional dan tata kelola yang transparan akan menjadi kunci utama untuk memenangkan persaingan di industri mobil listrik global.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan