Media Kampung – Rara Istiati Wulandari, yang dikenal sebagai Rara Pawang Hujan, mengklaim hujan yang mengguyur sejumlah wilayah di Kalimantan terjadi berkat doa dan ritual jarak jauh yang dilakukannya. Klaim itu disampaikan Rara dalam program Pagi Pagi Ambyar.

Dalam laporan yang beredar, hujan disebut turun di tengah upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera. Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan hujan di Kalimantan terjadi karena faktor perubahan pola cuaca, dinamika atmosfer, dan kondisi meteorologi alami.

Rara menyebut hujan di beberapa daerah, termasuk Balikpapan, Palangkaraya, dan Banjarmasin, sesuai dengan jadwal yang ia klaim telah dipersiapkan. Ia juga menggambarkan ritualnya sebagai upaya doa dari jarak jauh yang bekerja seperti mengatur cuaca dengan remote.

Selain itu, Rara mengatakan ritual doa memohon hujan membutuhkan konsentrasi, persiapan, doa lintas agama, budaya, adat, dan spiritualitas. Ia juga menyebut adanya perhatian terhadap keselamatan fisik karena ritual tersebut dilakukan di tengah guyuran air dan es batu.

Klaim itu kemudian memunculkan respons miring dari warganet. Sebagian pengguna media sosial meragukan pernyataan Rara dan mempertanyakan hubungan antara ritual yang disebutnya dengan turunnya hujan di Kalimantan.

Di sisi lain, penjelasan BMKG menjadi pengingat bahwa hujan adalah fenomena cuaca yang dapat dijelaskan melalui proses atmosfer. Dalam konteks karhutla, hujan memang membantu pemadaman api, tetapi penyebab turunnya hujan tetap perlu didasarkan pada data meteorologi, bukan klaim sepihak.

Peristiwa ini kembali menyoroti perbedaan antara keyakinan personal, klaim publik figur, dan penjelasan ilmiah dari lembaga resmi. Bagi pembaca, informasi dari sumber yang berwenang tetap menjadi rujukan utama untuk memahami penyebab cuaca dan perkembangan karhutla.