Media Kampung – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) efektif membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah dengan lahan gambut seperti Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.
Menurut BMKG, hujan dengan intensitas tinggi dan cakupan luas dapat membantu kerja pemadam di lapangan. Namun, hujan yang berhasil memadamkan api di permukaan belum tentu menghilangkan bara di bawah tanah pada lahan gambut.
Hujan dari OMC membantu pemadaman di lapangan
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, mengatakan hujan hasil OMC sangat membantu petugas di lapangan, termasuk Manggala Agni. Dalam satu kejadian hujan, api di area tertentu bisa langsung padam, terutama bila curah hujan cukup besar dan wilayah yang terdampak cukup luas.
Ia menjelaskan, volume air dari hujan jauh lebih besar dibandingkan pemadaman menggunakan helikopter water bombing. Karena itu, hujan dari OMC dinilai bisa memberi dampak lebih cepat pada area yang membutuhkan penanganan.
Meski begitu, Budi mengingatkan bahwa karakteristik lahan gambut membuat kebakaran tidak selalu berhenti di permukaan. Di bawah tanah, bara api masih bisa tersisa dan memicu kebakaran kembali jika tidak segera ditangani.
“Jadi kalaupun padam di permukaan, belum tentu padam juga di bawahnya, karena karakteristik gambut ini dia punya karakteristik below ground fire,” kata Budi.
Ia menambahkan, bila dalam satu sampai dua hari tidak turun hujan dan angin cukup kencang, titik api bisa kembali muncul. Karena itu, pemantauan darat tetap dibutuhkan untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa.
Sumsel dan Kalteng masih jadi prioritas
BMKG bersama sejumlah instansi telah menjalankan OMC untuk membantu penanganan karhutla sejak sekitar 18 Oktober 2026. Langkah itu dilakukan setelah arahan Presiden Prabowo Subianto kepada pimpinan kementerian dan lembaga, termasuk Kepala BMKG dan Panglima TNI.
Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah menjadi wilayah prioritas karena saat itu kualitas udara di kedua provinsi tersebut dinilai lebih buruk dibandingkan sejumlah daerah lain. Hingga Jumat 30 Oktober 2026, keduanya masih menjadi fokus operasi karena hotspot memang menurun tajam, tetapi kedalaman gambut membuat risiko kebakaran susulan tetap ada.
BMKG juga berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan melalui pasukan Manggala Agni serta BNPB yang mengerahkan helikopter water bombing. Pengarahan dilakukan setiap pagi dan sore dari Posko Halim.
Budi mengatakan pelaksanaan OMC bergantung pada potensi awan hujan dan laporan kondisi kebakaran dari petugas lapangan. Jika awan hujan tersedia di wilayah yang masih terpantau asap, BMKG akan mengoptimalkan peluang itu agar hujan turun di lokasi yang dibutuhkan.
Dalam operasinya, BMKG juga mengirim logistik ke lapangan menggunakan pesawat Hercules, sementara pusat komando operasi berada di Posko Halim.
Hujan alami dan OMC sama-sama berperan
Budi menegaskan BMKG tidak bisa mengklaim seluruh hujan yang turun di Sumatera Selatan maupun wilayah Sumatera lainnya sebagai hasil OMC. Menurut dia, secara alami memang ada potensi pembentukan awan hujan di sejumlah wilayah.
OMC, kata dia, berfungsi mengoptimalkan potensi yang sudah ada agar hujan turun di titik yang tepat, durasinya lebih lama, dan cakupannya lebih luas. Dengan begitu, lahan gambut dapat lebih basah dan risiko kebakaran menurun.
“Kami tidak bisa mengklaim semua hujan itu hasil modifikasi cuaca, karena memang ada juga potensi awan hujannya,” ujarnya.
Ia menambahkan, tanpa OMC pun hujan tetap bisa turun secara alami, tetapi cenderung bersifat lokal dan belum tentu menjangkau area rawan karhutla.
Perbedaan cuaca di Sumatra dan Kalimantan
Prakirawan Meteorologi Publik BMKG, Nur Agus Salim, menjelaskan bahwa perbedaan kondisi cuaca di Sumatra dan Kalimantan dipengaruhi fase musim, distribusi kelembapan udara, serta dinamika atmosfer di masing-masing wilayah.
Sejumlah wilayah Sumatra bagian utara, seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat bagian utara, dan Riau bagian utara, sudah memasuki periode musim hujan. Kondisi itu membuat peluang pembentukan awan hujan meningkat.
Di sisi lain, kondisi Kalimantan masih bervariasi. Sebagian wilayah mulai menunjukkan peningkatan peluang hujan, sementara wilayah lain masih berada dalam masa peralihan menuju musim hujan atau relatif kering.
BMKG mencatat hujan ringan hingga sangat lebat terjadi di Aceh dan Sumatera Utara pada 28 Oktober 2026. Dalam sepekan ke depan, Aceh, Sumatera Utara, dan Bengkulu masih berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat.
Untuk Kalimantan, peluang hujan diprakirakan meningkat bertahap pada akhir Oktober hingga awal November 2026. Hujan ringan hingga sedang diprediksi terjadi di sebagian Kalimantan bagian utara hingga tengah, sedangkan hujan sedang hingga lebat berpotensi muncul di sebagian Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara.
Budi menambahkan, musim hujan di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan diperkirakan mulai masuk pada dasarian kedua November. Setelah itu, hujan diprediksi semakin merata pada dasarian ketiga November hingga dasarian pertama Desember.
Meski kondisi atmosfer di beberapa wilayah mulai membaik, BMKG menyatakan operasi modifikasi cuaca tetap akan dioptimalkan di daerah yang masih memiliki potensi kebakaran tinggi, selama awan hujan tersedia dan kondisi atmosfer mendukung.













