**Media Kampung, Jakarta** – Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Yusril Ihza Mahendra, menegaskan bahwa ia bukan penulis buku “Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam”. Ia hanya menjadi narasumber yang diwawancarai oleh tim penyusun, tanpa terlibat dalam penentuan judul, perencanaan, atau pendanaan penerbitan.

Buku tersebut kembali menjadi sorotan publik setelah muncul tuduhan bahwa nama‑nama ulama dan kiai, termasuk KH Said Aqil dan Gus Kautsar, dicantumkan tanpa izin. Kedua tokoh tersebut secara terbuka meminta penarikan nama mereka dari buku dan menuntut revisi sebelum peredaran lanjutan.

Baca juga:

Menurut Yusril, wawancara yang menghasilkan kutipan dalam buku berlangsung jauh sebelum ia dilantik sebagai menteri, dan ia tidak pernah menerima transkrip atau naskah akhir. Setelah membaca buku secara lengkap, ia menilai bahwa isi yang bersumber darinya telah disajikan dengan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Baca juga:

Pernyataan Yusril menyoroti dua isu utama:

Baca juga:
  • Ketidakterlibatan penulis dalam proses editorial buku.
  • Penggunaan nama tokoh agama tanpa persetujuan, yang menimbulkan protes.

Ia juga mengingatkan publik bahwa judul buku dapat memengaruhi persepsi pembaca, sehingga penting untuk menilai isi secara keseluruhan, bukan hanya dari judul. Yusril menutup klarifikasinya dengan menegaskan kesiapan ia mempertanggungjawabkan pandangan yang termuat dalam buku, selama tidak ada penyimpangan fakta.