Media KampungAbu vulkanis yang dihasilkan dari erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 telah mengganggu aktivitas penerbangan di wilayah sekitar, termasuk Jakarta dan sekitarnya. Abu ini menyebabkan penundaan, pembatalan, serta perubahan operasional di sejumlah bandara, terutama Bandara Soekarno-Hatta. Larangan penerbangan di kawasan terdampak abu vulkanis bukan tanpa alasan, melainkan demi menjaga keselamatan penerbangan.

Apa Itu Abu Vulkanis dan Mengapa Berbahaya?

Secara fisik, abu vulkanis terlihat seperti debu halus berwarna abu-abu atau kecokelatan. Namun, material ini berbeda dengan debu biasa karena terdiri dari partikel batuan dan mineral yang sangat halus serta bersifat abrasif. Ketika terhisap oleh pesawat, partikel ini dapat mengikis permukaan dan komponen pesawat, terutama mesin jet.

Baca juga:

Dampak Abu Vulkanis pada Mesin Pesawat

Mesin jet bekerja dengan menyedot udara dalam jumlah besar untuk proses pembakaran. Jika udara mengandung abu vulkanis, partikel halus tersebut ikut masuk ke dalam mesin. Abu vulkanis mengandung material silika yang memiliki titik leleh lebih rendah dibandingkan suhu operasi mesin. Akibatnya, abu dapat mencair di dalam mesin, kemudian mengeras dan menempel pada komponen mesin, seperti turbin, yang mengganggu aliran udara dan kinerja mesin.

Dalam kasus ekstrim, hal ini dapat menyebabkan gangguan kompresor, peningkatan suhu mesin secara tidak normal, hingga kehilangan tenaga mesin. Penerbangan pesawat berbadan lebar yang memasuki awan abu vulkanis pernah mengalami kehilangan tenaga di seluruh mesinnya, yang membahayakan keselamatan penerbangan.

Gangguan pada Instrumen dan Permukaan Pesawat

Selain mesin, abu vulkanis juga dapat merusak sistem sensor pesawat, termasuk sistem pitot yang memberikan informasi kecepatan kepada pilot. Gangguan pada sistem ini dapat membuat informasi kecepatan tidak akurat, sangat berbahaya pada fase kritis seperti lepas landas dan pendaratan. Abu yang bersifat abrasif juga dapat mengikis kaca kokpit, mengurangi visibilitas pilot.

Baca juga:

Kesulitan Deteksi Abu Vulkanis

Abu vulkanis tidak selalu mudah dikenali oleh pilot. Dalam kondisi tertentu seperti malam hari atau cuaca buruk, awan abu sulit dibedakan dari awan biasa. Bahkan radar pesawat dan pengatur lalu lintas udara tidak selalu bisa mendeteksi keberadaan awan abu vulkanis. Oleh karena itu, otoritas penerbangan mengandalkan informasi dari BMKG, pusat pemantauan gunung api, laporan pilot, dan Volcanic Ash Advisory Centre (VAAC) untuk memantau posisi dan pergerakan abu vulkanis.

Risiko di Bandara dan Landasan Pacu

Abu vulkanis yang menumpuk di area bandara juga membahayakan pesawat saat hendak lepas landas dan mendarat. Lapisan abu dapat mengurangi daya cengkeram roda pesawat sehingga pengereman menjadi tidak efektif. Abu juga berpotensi masuk ke mesin selama operasional di darat. Oleh karena itu, bandara harus memastikan landasan, apron, dan area operasional lain bebas dari abu sebelum penerbangan dapat dilanjutkan dengan aman.

Pentingnya Larangan Terbang di Zona Abu Vulkanis

Larangan terbang di kawasan terdampak abu vulkanis merupakan langkah penting untuk menghindari risiko kerusakan mesin, gangguan instrumen, dan kecelakaan penerbangan. Keselamatan penumpang dan kru menjadi prioritas utama sehingga maskapai dan otoritas penerbangan tidak akan memaksakan operasi pesawat di zona abu vulkanis.

Baca juga:

Dengan pemantauan yang ketat dan informasi akurat dari lembaga terkait, penerbangan dapat segera dilanjutkan setelah kondisi udara dan bandara dinyatakan aman.