Media KampungBanyuwangi menyiapkan Satgas Kemarau untuk mengantisipasi dampak El Nino yang diprediksi memicu kemarau panjang pada tahun ini.

Langkah ini merupakan tindak lanjut imbauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara nasional.

Kepala BPBD Banyuwangi, Partana, menyatakan kesiapan tim dalam menghadapi potensi kekeringan dan kebakaran hutan.

Ia menekankan bahwa antisipasi dini sangat penting meski harapan dampak El Nino tidak fatal.

Satgas Kemarau akan melibatkan seluruh OPD, TNI-Polri, BMKG, Basarnas, serta pengelola Taman Nasional Alas Purwo.

Elemen masyarakat juga diajak berperan aktif dalam proses mitigasi.

BPBD telah memetakan sebelas kecamatan dengan kerawanan kekeringan tinggi, antara lain Wongsorejo, Tegaldlimo, dan Singojuruh.

Kecamatan lain seperti Glagah, Kalipuro, Giri, dan Cluring masuk dalam kategori kerawanan sedang.

Sembilan kecamatan termasuk Banyuwangi Kota dan Rogojampi dikategorikan rendah.

Pemetaan juga mencakup titik-titik rawan kebakaran hutan dan lahan di area produksi serta taman nasional.

Koordinasi awal telah dilakukan bersama stakeholder di tingkat provinsi untuk menyelaraskan langkah mitigasi.

Setiap instansi akan menjalankan tugas sesuai wewenang dan kapasitas masing-masing.

Oleh karena itu, Dinas Pertanian, Dinas Pengairan, dan PUDAM diberikan peran utama memastikan kecukupan debit air.

Pengelolaan suplai air bersih bagi warga menjadi prioritas dalam rangka mengurangi risiko kekeringan.

BPBD tetap waspada terhadap bencana hidrometeorologi lain, seperti banjir dan angin kencang.

Beberapa hari terakhir, intensitas hujan tinggi masih mengguyur wilayah Banyuwangi.

Akibatnya, debit sungai meningkat dan menyebabkan amblesnya jembatan di Desa Sraten, Kecamatan Cluring.

Banjir serupa juga melanda Kalibaru beberapa hari sebelumnya.

Partana menegaskan bahwa status saat ini masih dalam tahap kesiapsiagaan.

Tim siap diaktifkan bila situasi mengharuskan tindakan cepat.

Pemetaan wilayah berisiko tinggi membantu penempatan sumber daya secara tepat.

Tim Satgas Kemarau akan melakukan pemantauan rutin terhadap kondisi cuaca dan kelembaban tanah.

Data real‑time dari BMKG akan menjadi acuan utama dalam pengambilan keputusan.

Penggunaan teknologi satelit dipertimbangkan untuk mendeteksi hotspot kebakaran secara dini.

Kolaborasi dengan pihak pertanian meliputi penyuluhan teknik irigasi efisien bagi petani.

Upaya ini diharapkan dapat mengurangi konsumsi air dan meningkatkan ketahanan pangan.

Selain itu, program penanaman pohon bakau di pesisir direncanakan untuk mengurangi erosi.

Penguatan jaringan komunikasi desa menjadi bagian penting dalam penyebaran informasi cepat.

Tim Satgas Kemarau juga menyiapkan posko bantuan air bersih di daerah rawan.

Penutup, BPBD terus memantau perkembangan cuaca dan siap menyesuaikan strategi bila diperlukan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.