Media Kampung – Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa diplomasi luar negeri Presiden Prabowo Subianto bukan sekedar seremonial atau gagah-gagahan, melainkan membuahkan hasil nyata yang strategis bagi Indonesia. Selama 1,5 tahun masa pemerintahan, kunjungan luar negeri Prabowo yang mencapai lebih dari 50 kali telah membawa berbagai pencapaian penting, termasuk keberhasilan Indonesia masuk dalam BRICS dan implementasi tarif nol persen di Uni Eropa yang melibatkan 25 negara.

Teddy merinci total investasi yang masuk selama periode tersebut mencapai sekitar Rp2.430 triliun, dengan komitmen investasi dari Jepang dan Korea Selatan senilai Rp575 triliun. Selain itu, diplomasi tersebut juga meningkatkan kerja sama di bidang pertahanan dengan beberapa negara besar seperti Prancis, Amerika Serikat, Rusia, Cina, dan Inggris, yang memperkuat alat pertahanan nasional.

Namun, klaim ini mendapat kritik dari politisi PDI Perjuangan Guntur Romli yang menilai bahwa sebagian besar investasi tersebut sebenarnya berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar 52,6% atau Rp1.279,1 triliun, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) hanya mencapai Rp1.150,9 triliun atau 47,4%. Guntur juga mempertanyakan realisasi investasi Rp575 triliun dari Jepang dan Korea Selatan, yang menurutnya masih berupa komitmen tertulis dan belum terealisasi secara nyata.

Guntur menegaskan bahwa klaim Seskab Teddy yang menyatakan seluruh investasi tersebut sebagai hasil langsung dari diplomasi Presiden Prabowo adalah menyesatkan publik dan memutarbalikkan fakta. Data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan realisasi PMA sepanjang tahun 2025 hampir stagnan dengan pertumbuhan hanya 0,1%, jauh menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 21%.

Di sisi lain, Ketua Umum Diaspora Muda Nusantara Muh. Akmal Harviansyah memberikan dukungan terhadap penjelasan Teddy. Ia menyatakan bahwa diplomasi internasional tidak hanya diukur dari frekuensi perjalanan atau intensitas pertemuan, tetapi dari manfaat strategis yang diperoleh demi kepentingan bangsa dan negara. Menurutnya, diplomasi aktif Presiden Prabowo menjadi instrumen penting dalam memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global.

Akmal menambahkan bahwa kunjungan luar negeri Presiden juga telah menghasilkan penguatan hubungan strategis dengan berbagai negara serta peningkatan kerja sama di sektor ekonomi, investasi, pertahanan, dan pembukaan akses pasar baru. Ia menegaskan bahwa kritik terhadap diplomasi ini harus tetap berlandaskan data dan fakta yang lengkap agar demokrasi berjalan dengan sehat.

Pemerintah melalui penjelasan Teddy menggarisbawahi bahwa agenda diplomasi Presiden Prabowo tidak hanya bersifat seremonial, melainkan berlandaskan kebutuhan strategis nasional dan respons terhadap perubahan global yang cepat. Berbagai hasil konkret yang diperoleh menjadi bukti bahwa diplomasi luar negeri membawa manfaat nyata bagi Indonesia.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.