Media Kampung, Jakarta – Ahmad Zaki Ali atau yang dikenal sebagai Bang Jek, relawan yang aktif membantu korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT), berangkat ke lokasi bencana menggunakan ongkos pribadi. Keputusan ini diambil karena saat itu Yayasan Gerak Bareng yang dipimpinnya tengah dalam proses transisi kepemimpinan, sehingga dana yayasan tidak bisa digunakan untuk perjalanan tersebut.
Bang Jek wafat saat menjalankan tugas kemanusiaannya membantu masyarakat terdampak gempa di NTT. Kakak kandungnya, Wilda Farah, menjelaskan bahwa sekitar dua bulan sebelum meninggal, Bang Jek sudah mulai menyerahkan pengelolaan yayasan kepada manajemen yang lebih mapan agar yayasan tidak lagi bergantung pada dirinya secara langsung.
Keberangkatan Menggunakan Dana Pribadi
Dalam proses transisi tersebut, saat terjadi gempa di NTT, Bang Jek merasa terpanggil untuk segera berangkat. Namun karena bukan prioritas yayasan saat itu, ia membeli tiket pesawat dengan biaya sendiri. Keputusan ini muncul secara spontan setelah Bang Jek mengetahui kejadian bencana tersebut pada pagi hari dan langsung mencari tiket penerbangan.
Biasanya, respons Yayasan Gerak Bareng dilakukan melalui koordinasi terlebih dahulu, tetapi kali ini Bang Jek bertindak cepat dan mandiri. Walaupun awalnya kesulitan mendapatkan tiket, ia terus berupaya hingga berhasil sampai di NTT.
Kolaborasi dalam Distribusi Bantuan
Setibanya di NTT, Bang Jek tidak hanya mewakili Yayasan Gerak Bareng. Ia juga bekerja sama dengan berbagai lembaga seperti Basarnas dan BNPB dalam mendistribusikan bantuan kepada masyarakat terdampak gempa. Saat menjalankan tugas tersebut, Bang Jek meninggal dunia pada Jumat, 21 Agustus 2026.
Jenazahnya kemudian dipulangkan ke Jakarta dan dimakamkan di TPU Sukabumi Selatan, Jakarta Barat, pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026.
Dedikasi dan Pengabdian Bang Jek
Kematian Bang Jek menjadi kehilangan besar bagi komunitas relawan dan masyarakat yang dibantunya. Dedikasi dan keberaniannya dalam turun langsung ke lokasi bencana mencerminkan semangat pengabdian tanpa pamrih yang menjadi teladan bagi relawan lainnya.
Proses transisi kepemimpinan di Yayasan Gerak Bareng yang sedang berlangsung juga menunjukkan upaya profesionalisasi organisasi agar keberlanjutan bantuan sosial dapat terjaga tanpa bergantung pada satu individu.
Kasus ini mengingatkan pentingnya dukungan yang berkelanjutan bagi organisasi kemanusiaan dan relawan di lapangan, agar mereka dapat melaksanakan tugas dengan sumber daya yang memadai dan terorganisir dengan baik.













Tinggalkan Balasan