Media Kampung – Istilah desil sering muncul dalam berbagai program pemerintah yang menggunakan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai acuan. Namun, penting dipahami bahwa desil bukanlah ukuran tunggal kondisi ekonomi keluarga, melainkan sebuah pemeringkatan relatif tingkat kesejahteraan keluarga dibandingkan dengan keluarga lain.
Dalam sistem DTSEN, setiap keluarga diberikan peringkat berdasarkan berbagai karakteristik sosial ekonomi dan kemudian dibagi ke dalam 10 kelompok atau desil, yang masing-masing mencakup sekitar 10 persen populasi keluarga. Desil 1 menunjukkan kelompok keluarga dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sementara desil 10 menunjukkan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.
Pengelompokan ini menggunakan metode statistik Proxy Means Test (PMT) yang mempertimbangkan berbagai faktor secara bersamaan, seperti kondisi tempat tinggal, sumber air minum, bahan bakar untuk memasak, kepemilikan aset, daya dan konsumsi listrik, komposisi keluarga, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan kondisi disabilitas. Dengan demikian, satu indikator tunggal tidak dapat menentukan posisi desil sebuah keluarga. Misalnya, kepemilikan kendaraan saja tidak otomatis menempatkan keluarga pada desil tertentu.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti, menegaskan bahwa angka desil harus dipahami sebagai gambaran posisi relatif dalam pemeringkatan kesejahteraan, bukan sebagai ukuran absolut kemiskinan, pendapatan, atau kekayaan keluarga. Karena itu, keluarga yang berada dalam desil yang sama belum tentu memiliki pendapatan atau kondisi sosial ekonomi yang identik.
Desil juga tidak dapat diterjemahkan langsung sebagai label keluarga miskin atau kaya. Sebagai contoh, keluarga yang masuk desil 3 berarti berada pada kelompok ketiga dari sepuluh kelompok berdasarkan pemeringkatan kesejahteraan relatif, namun kondisi ekonomi mereka bisa sangat beragam.
Penggunaan desil dalam DTSEN sangat penting sebagai referensi tunggal lintas kementerian dan lembaga untuk merencanakan dan menyalurkan bantuan sosial secara tepat sasaran. Data ini mengintegrasikan berbagai sumber data seperti DTKS, P3KE, dan Regsosek yang disinkronkan secara berkala dengan data kependudukan dari Ditjen Dukcapil, sehingga mencakup data yang sangat luas dan detail.
BPS juga menyediakan saluran pemutakhiran data masyarakat melalui platform seperti Cek Bansos, SIKS-NG, dan Cek DTSEN untuk memastikan data tetap akurat dan relevan dengan kondisi sosial ekonomi yang terus berubah.
Dengan pemahaman yang tepat terhadap arti desil, kebijakan pemerintah dan program bantuan sosial dapat lebih tepat sasaran dan efektif, serta masyarakat dapat memahami bahwa desil merupakan indikator relatif, bukan ukuran mutlak kondisi ekonomi keluarga.














Tinggalkan Balasan