Media Kampung – Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Afifuddin Muhajir, memaparkan kriteria ideal bagi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU dalam acara Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Ploso, Kediri. Pernyataan ini menjadi sorotan karena menyangkut regenerasi kepemimpinan di tubuh organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Kriteria Rais Aam: Kepakaran dan Ketakwaan
KH Afifuddin menegaskan bahwa Rais Aam harus memiliki kepakaran di bidang ilmu tafsir, hadis, fikih, dan usul fikih. Lebih dari itu, sifat khasyyah (rasa takut mendalam kepada Allah) menjadi unsur yang sangat penting. Sebab, secara maknawi, Syuriyah merupakan penerus spiritual langsung dari pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. “Syuriah pada khususnya sesungguhnya adalah khalifahnya (penerusnya) Asy’ari (Kiai Hasyim Asy’ari). Oleh karena itu jangan jauh-jauh dari Yasin (Kiai Hasyim), sekurang-kurangnya separuhnya, kalau tidak bisa separuhnya, seperempatnya sekalian,” tuturnya.
Posisi Ketua Umum Tanfidziyah sebagai Pelaksana Teknis
Di sisi lain, KH Afifuddin menjelaskan bahwa Ketua Umum Tanfidziyah berperan sebagai pelaksana teknis organisasi. Jika Syuriyah adalah pewaris keilmuan dan perjuangan Mbah Hasyim, maka Ketua Umum Tanfidziyah menjalankan fungsi operasional. “Dan siapapun yang menjadi ketua umum sesungguhnya adalah penggantinya yayasan itu,” ujarnya.
Tanggung Jawab Menjaga Khittoh NU
Meski posisi kharismatik Mbah Hasyim sebagai Waliyyul Akbar tidak dapat diwariskan, KH Afifuddin mengingatkan bahwa duet Rais Aam dan Ketua Umum PBNU terpilih memikul tanggung jawab besar menjaga khittoh NU. Mereka harus memastikan NU tetap sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah (organisasi keagamaan dan kemasyarakatan) dan tidak kembali menjadi partai politik praktis.
Pernyataan ini disampaikan dalam rangka Munas-Konbes NU 2026 yang berlangsung di Pondok Pesantren Al Falah, Kediri, pada 24 Juni 2026.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan