Media Kampung – Penggagas Hari Santri Nasional sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Babussalam Pagelaran, KH Thoriq bin Ziyad, menegaskan bahwa pondok pesantren harus menjadi perekat perbedaan di tengah masyarakat. Menjelang pelaksanaan Muktamar NU, ia mengajak kalangan pesantren dan warga Nahdlatul Ulama (NU) untuk memperkuat peran sebagai pemersatu.
Gus Thoriq menilai pesantren perlu kembali menguatkan amanah para ulama terdahulu, yakni menjadi pusat pendidikan moral, etika, dan perdamaian. “Kita harus mampu menjadi insan yang mendamaikan dan mempersatukan. Perbedaan tidak boleh dijadikan alasan untuk memperlebar perpecahan,” katanya di Malang, Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, keberagaman yang ada di tubuh NU justru harus menjadi kekuatan untuk membangun kebangkitan ulama yang berlandaskan ilmu pengetahuan dan nilai kebangsaan. Ia menilai insan pesantren perlu menjadi poros utama dalam menjaga persatuan sekaligus menghadapi berbagai dinamika sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
“Perbedaan harus disatukan menjadi gerakan kebangkitan ulama yang bersifat ilmiah dan membawa manfaat bagi bangsa,” ujarnya. KH Thoriq menambahkan, pesantren sejak awal berdiri memiliki misi membangun karakter masyarakat sehingga nilai tersebut perlu terus diwariskan kepada generasi mendatang.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.





Tinggalkan Balasan