Media Kampung – Pasca-Armuzna, Kemenhaj mencatat jumlah jemaah haji Indonesia yang dirawat mengalami penurunan signifikan. Hingga saat ini, sekitar 210 jemaah masih menjalani perawatan di klinik kesehatan, lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang mencapai 300 pasien.

Plt Kepala Pusat Kesehatan Haji, Dani Pramudya, menyebut seleksi kesehatan berperan penting dalam penurunan ini. Pemeriksaan ketat membantu menekan risiko gangguan kesehatan selama pelaksanaan ibadah.

“Penurunan terjadi karena syarat kesehatan jemaah diperketat. Kondisi jemaah yang berangkat kini lebih terpantau,” kata Dani kepada Media Kampung di Makkah, Arab Saudi, Kamis, 4 Juni 2026.

Mayoritas pasien mengalami kelelahan setelah rangkaian ibadah Armuzna. Aktivitas padat memengaruhi kondisi fisik, terutama bagi jemaah lanjut usia. Selain kelelahan, banyak pasien memiliki penyakit bawaan sejak dari daerah asal. Diabetes menjadi salah satu penyakit komorbid yang paling sering ditangani.

“Ada jemaah luka bakar di kaki karena tidak merasakan aspal panas. Kondisi ini dipicu komplikasi penyakit tertentu,” ujarnya.

Jemaah yang membutuhkan perawatan lanjutan dirujuk ke rumah sakit mitra. Klinik kesehatan bekerja sama dengan Rumah Sakit An-Nur dan Saudi German Hospital.

Menjelang kepulangan melalui Jeddah, sebanyak 20 jemaah sempat mengalami gangguan kesehatan. Seluruh pasien tersebut kini telah mendapatkan penanganan dari petugas medis.

Dani mengingatkan jemaah menjaga kondisi tubuh selama proses pemulangan. Ia meminta jemaah cukup beristirahat dan memenuhi kebutuhan nutrisi.

“Jemaah harus makan cukup agar kondisi fisik tidak drop. Istirahat yang cukup sangat penting menjelang kepulangan,” tegasnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.