Media Kampung – Saifuddin HM Abd Muin Saideng, seorang jemaah haji tunanetra asal Sinjai, resmi dijadikan nama sebuah masjid wakaf di Arab Saudi, menandai penghormatan istimewa bagi umat Indonesia di Tanah Suci.
Saifuddin, yang akrab dipanggil Baso Tang, berusia 56 tahun dan berasal dari Pulau Kambuno, Kabupaten Sinjai, telah menjadi imam meski mengalami kebutaan total.
Ia menunaikan ibadah haji bersama Kloter UPG 17, kelompok reguler yang berangkat dari Sinjai, dan dikenal sebagai sosok yang konsisten memimpin shalat di area penginapan.
Pada Minggu, 24 Mei 2026, di lobi hotel Jemaah Indonesia di kawasan Jarwal, Makkah, sekelompok warga Arab tengah mencari jemaah tertua untuk disambut secara khusus.
Faried Wajdi, pembimbing ibadah Kloter UPG 17, memperkenalkan Baso Tang kepada rombongan tersebut, menekankan bahwa ia adalah imam tunanetra yang telah lama melayani jamaah.
“Saya bilang, ini juga jemaah kami. Beliau tunanetra dan imam masjid,” kata Faried dalam percakapan singkat di Makkah.
Rombongan Arab kemudian meminta Saifuddin membaca Al‑Qur’an di tengah kerumunan yang mulai memadati lobi.
Saifuddin memilih Surah Al‑Ashr, sebuah surah pendek yang mudah dihafalkan, karena suasana semakin ramai dan ia tidak ingin terlalu lama.
“Saya baca surah pendek saja karena sudah banyak orang berkerumun. Takut lama,” ujarnya kepada Tim Media Center Haji.
Setelah selesai, para tamu Arab tampak terharu melihat dedikasi seorang imam yang tetap melaksanakan tugas meski tanpa penglihatan.
Mereka menyampaikan niat membangun sebuah masjid wakaf yang akan dinamai atas nama Saifuddin sebagai bentuk penghargaan.
Lokasi pasti masjid belum diumumkan, namun diperkirakan akan berdiri di Madinah, kota suci yang menjadi tujuan utama banyak jamaah.
Berita tersebut menyebar cepat di kalangan jemaah Indonesia, menimbulkan rasa bangga dan haru di hati Saifuddin.
“Saya tidak sangka bisa seperti ini,” katanya dengan suara pelan, mengakui air mata mengalir saat mengingat penghormatan tersebut.
Saifuddin menambahkan bahwa ia terus berdoa agar masjid tersebut menjadi tempat ibadah yang memberi manfaat bagi generasi mendatang.
Penghormatan ini juga menjadi simbol persahabatan antarumat beragama, memperlihatkan betapa kontribusi seorang tunanetra dapat menginspirasi komunitas internasional.
Para pejabat Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Saifuddin menginspirasi dunia melalui ketekunan dan keimanan.
“Kisah Baso Tang menunjukkan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk berkontribusi secara signifikan dalam ibadah,” ujar juru bicara LPP RRI.
Masjid yang akan dibangun diharapkan menjadi titik pertemuan bagi jamaah Indonesia di Arab Saudi, sekaligus menjadi monumen penghormatan bagi para penyandang disabilitas.
Pihak penyelenggara haji menegaskan bahwa program wakaf semacam ini akan terus dikembangkan untuk meningkatkan fasilitas keagamaan bagi jemaah.
Saifuddin, yang selama ini melayani shalat secara mandiri, kini mendapat dukungan moral yang meluas, termasuk dari sesama jemaah yang mengagumi ketabahannya.
Keputusan membangun masjid atas nama seorang imam tunanetra menjadi berita yang menarik perhatian media internasional, meski dalam laporan kami nama media lain diganti menjadi Media Kampung.
Meski belum ada kepastian tanggal penyelesaian, proyek ini telah menambah semangat kebersamaan di antara jemaah Indonesia yang berada di luar negeri.
Saifuddin berharap masjid tersebut tidak hanya menjadi simbol penghargaan, tetapi juga menjadi pusat edukasi tentang inklusivitas dalam ibadah.
Ia menutup perbincangan dengan harapan bahwa generasi berikutnya akan terus melanjutkan tradisi kebersamaan dan rasa hormat yang telah ditunjukkan oleh komunitas Arab.
Pengumuman resmi mengenai lokasi dan rencana pembangunan masjid diharapkan akan dirilis dalam beberapa minggu mendatang oleh otoritas terkait.
Dengan demikian, kisah Baso Tang kini menjadi contoh nyata bahwa dedikasi dalam beribadah dapat melintasi batasan fisik dan budaya.
Artikel ini dipublikasikan oleh Media Kampung.







Tinggalkan Balasan